Grid Networks | Rabu, 17 Januari 2018 | SIGN IN | SIGN UP

Suka dan Duka Menjadi Pemilik Rambut Keriting

  • Jumat, 20 Oktober 2017 12:46 WIB

Rambut adalah mahkota seorang wanita. Sudah tidak asing lagi bagi kita mendengar istilah tersebut. Benar, rambut seorang wanita selalu berhasil membuatnya tampil semakin cantik dan elegan.  Alangkah indahnya jika wanita mencintai dan merawati mahkota ini dengan baik sehingga sinar aslinya terpencar.  Semakin indah lagi apabila mereka pede dengan rambut natural-nya, mau itu lurus ataupun keriting, panjang maupun pendek.

 

Aku pun jatuh kepada kategori rambut keriting dan tebal. Entah dari mana aku mendapatkan gen tersebut. Orangtuaku mempunyai rambut yang bisa digolongkan lurus, maupun seluruh keluarga dekatku juga memiliki karakteristik seperti itu. Sebenarnya, di bilang keriting banget seperti mie keriting juga tidak, maupun keriting yang sangat kecil yang sering dijuluki kribo, tetapi cukup untuk dikategorikan keriting dengan volum yang tebal. Di kalangan masyarakat Indonesia, rambut tipe ini masih tergolong langka, sehingga jika seorang dengan rambut sepertiku lewat, pasti semua mata akan menjuru ke dia. Entah bakalan diomongin, pokoknya rambut keriting ini bisa menjadi key factor dalam kepribadian atau image mereka secara keseluruhan. Suka atau tidak, pasti ada extra attention yang akan diberi oleh orang lain karena keunikan ini. 

Rambut ikal extra attention

Sebenarnya ini merupakan hal yang positif, tetapi bagi pemilik mahkotanya ini sendiri, belum tentu perhatian ini akan disukai olehnya. Mungkin karena keadaan kondisi cuaca yang kurang mendukung, ataupun bisa jadi stigma dalam masyarakat Indonesia yang kurang positif sehingga banyak kata julukan yang tak pantas yang akan dibebani oleh para peimilik rambut keriting ini. Memang benar, tidak gampang menerima dan mencintai rambut ini secara keseluruhan, sebab masih banyak suka dan duka yang dialami mengenai rambut ketika tinggal di Indonesia.

 

Pertama, mempunyai rambut keriting sangat ribet. Itu merupakan fakta. Bukannya hanya berat dalam kandungan gram, tetapi juga melalui tanggung jawab dan yang harus diterima secara paket supaya kondisi rambut tetap maksimal. Mau diiket atau digerai rupanya serba salah. Jika diiket, rambut seperti tidak bisa bernapas. Kalau digerai, sudah tak terbayang lagi keringat yang akan terpancar akibat panasnya terik matahari Jakarta. Sudah gitu, akan lebih terekspose ke polusi sehingga banyak debu dan abu yang akan menempel di rambut.  Alhasil, rambut dan kulitnya menjadi kering dan frizzy.

Hal-hal yang dilalui pemilik rambut meriting 

Ongkos yang dikeluarkan kemungkinan besar melebihi teman-teman kita yang berambut lurus. Lebih dari sekedar shampoo dan conditioner pada umumnya, ada juga tambahan curling cream, hair essence serum, scrunching jelly, dan sejibun produk lainnya. Mencari produk-produk seperti yang dicantum di Indonesia pun susah setengah mati, tetapi merupakan suatu keharusan bagi pemilik rambut unik ini sehingga menyisir rambut tidak diajukan supaya curls tetap intact. Setiap kali saya menuturkan bahwa saya tidak pernah menyisir rambut (selain sebelum keramas) dan hanya ‘menggunakan’ tangan saja, reaksi aneh atau terkejut akan terparus pada muka mereka.

 

Semua kerepotan ini berkontribusi terhadap waktu lama yang saya telah gunakan untuk menyadari betapa spesial dan beruntungnya saya memiliki rambut seperti ini. Jujur, dulu saya muak dan pengen menggantikan status rambut dari keriting ke lurus supaya ‘fit in’, sehingga selalu berpikiran untuk shortcut kepada treatment smoothing ataupun bonding, dan mungkin saya tidak sendirian. Banyak yang bilang sangat sayang bila saya meluruskannya karena kelangkaan dan keunikan tersebut. Dulu, walaupun insan masih sangat kuat terhadap meluruskan rambut, omongan seperti itu pun selalu tercela di pikiran. Perlu dorongan yang kuat dari banyak orang yang mendukung dan mendalami apa sebenarnya makna terkandung dari gelombang-gelombang rumit ini yang berhasil menggantikan perspektifku pada rambut saya.  

 

Social media pun memiliki influence yang besar. Tidak sengaja, saya terjeremus ke account Instagram kumpulan perempuan dengan rambut keriting dan saya sangat terpukau dan turut senang. Dalam hati, saya kagum akan kepedean setiap wanita dengan rambutnya, sangat elegan dan fierce namun sadar akan keunikannya. Saya pun berhenti stalking sejenak dan berpikir kepada diri sendiri, “Kenapa gue gak seperti itu?” Saya bertanya kepada diri saya. Apa sih bedanya saya dengan mereka? Bedanya adalah mereka mencintai dan mensyukuri apa yang mereka punyai, dan itu sangat terpencar. Saya ingin seperti mereka. Ini merupakan titik reverse sifat ketidaksukaan saya terhadap rambut saya. Yang selama ini saya pandang sebagai beban, keanehan, dan lainnya kini tidak lagi. Saya mulai merawati rambut keriting saya sehingga menjadi lebih bouncy. Semua duka saya melihat sebagai obstacle atau motivasi untuk mendapatkan hasil rambut yang termaksimal.

 

Rambut keritingku tidak mendefinisikan saya secara keseluruhan, dan saya tidak menginginkannya seperti itu. Malah, rambut ini hanya sebagai aksesori penting yang menambahkan essence seorang wanita yang percaya diri, kuat, dan berani bertampil beda dengan apa yang dimilikinya. Dengan apa yang kupunyai, ditambahi dengan value yang terkandung dalam hal terrumit pun, saya sangat positif terhadap sikap rambut dan sangat bersyukur telah menemui self-love dalam bentuk rambut keriting karunia Tuhan. Untungnya, saya tidak melangkah dan tidak akan melangkah ke arah sebaliknya.Pede dengan rambut natural


Penulis :

KOMENTAR

TULIS
ARTIKEL
EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×