Grid.ID Networks | Jumat, 28 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Anak Ayam dan Sekaleng Puisi

  • Sabtu, 28 September 2013 23:00 WIB

Anak Ayam dan Sekaleng Puisi

Pagi ini, masih sama dengan pagi-pagi yang lain. Bukan tentang embun yang memeluk mesra dedaunan, bukan pula tentang kokok ayam yang saling sahut. Di balik jendela kelas, mataku tersudut pada satu titik obyek yang telah menggiringku ke tingkat kulminasi kerinduan. Fatah. Dia bukan setangkai bunga yang tengah kupandangi saat ini, dia adalah cowokku.

 

"Din, nanti ke perpus, yuk. Aku mau ngembaliin buku pinjaman, nih, udah kena denda," ucap Riri sambil menepuk pundakku.

 

"Ri, menurutmu Fatah sekarang lagi mikirin aku enggak, ya? tau dia lagi sibuk belajar kimia?" ucapku dengan tatapan menerawang langit.

 

"Ya elah Din, ternyata dari tadi kamu ngelamunin itu. Ya, pasti kangenlah sama kamu, tapi bukan berarti kalo merindukan seseorang dia berhenti memikirkan yang lain."

 

"Tapi, masak, sih, dia kangen sama aku? Jangankan telepon, sms aja jarang banget. Mesti aku duluan yang sms. Sebel, sih, lama-lama." Kali ini wajah Dina terlihat agak kesal.

 

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×