Grid.ID Networks | Minggu, 23 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Beku

  • Sabtu, 11 Mei 2013 23:00 WIB

Beku

Pagi itu aku jalani seperti biasa, bermain sepeda roda tiga di depan rumah, tidak boleh lebih dari batasan sisi kanan dan kiri rumah. Aku gowes sepedaku mengitari jalanan depan dengan batas yang diizinkan ibu. Sampai di putaran kelima aku harus menghentikan sepedaku karena ada mobil yang menghalangi jalanku, atau lebih tepatnya berhenti di pekarangan rumah kosong persis depan rumahku. Ada dua mobil yang parkir, satu adalah mobil sedan dan satunya lagi mobil boks berukuran raksasa, aku belum pernah melihat mobil dengan boks di belakangnya, perlahan aku mendekati mobil itu, mengelilinginya dengan sepedaku, sampai ada suara pintu mobil yang terbuka dan suara langkah kaki yang mendekatiku.

 

"Ngapain di situ?"


Aku terkejut dan langsung menggowes sepedaku menjauhi mobil box dan anak itu.

 

***

 

Keesokan harinya, sebelum aku memulai ritualku, aku mengintip dahulu dari jendela ruang tamu, anak itu tidak ada, aku merasa aman dan aku segera keluar melaksanakan ritual seperti biasa. Kembali aku menggiring sepedaku keluar rumah. Menaikinya dan berkeliling seperti biasa. Lagi-lagi di putaran kelima. Aku dihalangi sesuatu. Kali ini anak itu.

 

"Eh, hm, maaf permisi, aku mau lewat."

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×