Grid.ID Networks | Jumat, 21 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Empat Hari Bersama Senja

  • Minggu, 20 Oktober 2013 23:00 WIB

Empat Hari Bersama Senja

Suara ombak mulai terdengar. Kupercepat langkah kakiku untuk bisa sampai ke sana. Napasku sedikit tersengal dan bau air laut mulai merasuki tenggorokanku yang kering. Warna air laut itu tak jernih, bukan karena efek matahari sore. Pasirnya juga tidak secokelat tanah, tapi menyatu dengan warna matahari sore. Menghantarkan hangat matahari sore ke telapak kakiku. Tiba-tiba pandanganku kabur. Air mata tak lagi terbendung. Menggila keluar dari kelopak mataku, jatuh, dan bercampur bersama miliyaran liter air asin lainnya. Sontak aku menutupi mukaku, kemudian terduduk, mencoba menyatu dengan milyaran pasir.

 

            Segala rasa lelah dan penyesalan mulai menguap dari diriku. Rasanya sedikit bebanku sudah terbawa ombak menuju laut lepas. Deburan ombak berdesir di dalam nadiku. Pertanda kami sudah sejiwa mungkin. Aku baru menyadari keberadaan seseorang di sampingku. Entah sudah berapa lama ia berada di sana. Berlalut dress selutut berwarna abu-abu. Rambutnya panjang dengan poni rata menutupi dahinya. Tangan kanannya menahan topi rajut yang ia pakai dengan pembawaan cantik dan anggun. Gaya berpakaiannya berbeda 180 derajat denganku yang lebih suka memakai celana pendek dan kaus oblong.

 

            Perempuan itu kini menatapku dan tersenyum simpul. Senyumnya seperti menyapaku. Ia pun mengulurkan tangan kanannya. Saat aku membalasnya, senyumnya melebar, menunjukkan giginya yang tersusun rapi. Saat kupikir ia akan menyebutkan namanya, ia malah menuliskan sesuatu di pasir. 'Senja' tulisnya. Alisku mengekrut, apa maksudnya? Merasa mendapat ilham, aku tersadarkan. Ia sedang menuliskan namanya. Aku pun menulis namaku di pasir juga. 'Akemi' tulisku. Senja itu tersenyum. Mungkin pemikiran kita sama. Akemi dalam bahasa Jepang juga berarti senja.

 

            Kami memandang seperlima bagian matahari yang lambat laun menghilang di balik laut. Pernahkah kau merasa, kau bisa mengetahui pikiran orang tersebut tanpa berbicara dengannya. Rasanya seperti kalian dilahirkan dan hidup bersama sepanjang umur kalian. Menakjubkan tapi sekaligus menakutkan. Apalagi dalam konteks, kau dan orang itu tidak pernah bertemu sebelumnya. Tapi seperti itulah aku dan Senja pada waktu itu. Sisa waktuku sebelum pulang dihabiskan dengan diam dan mencoba menerka pikirannya. Hasilnya, aku merasa bernostalgia. Tak ada yang mencoba berbicara. Yang ada hanyalah kenyamanan.

 

            Aku mulai menapaki halaman depan rumahku. Seperti maling, aku membuka pintu perlahan. Tentu saja itu rumahku. Tapi aku malas jika manusia itu menyadari kehadiranku. Membuat aku harus berhadapan dengannya. Setelah kemarin kami bertengkar, aku tidak ingin berbicara lagi dengannya. Satu hal yang mungkin belum aku paham. Aku kira dia akan menjauhiku tapi aku malah mendapatinya berdiri di ambang pintu kamarku. Laganya mengatakan 'ayo kita selesaikan masalah kemarin.' Tapi aku tidak berniat. Tolong pakailah otakmu sebagaimana mestinya, batinku. Tapi ayah dan ibu meminta aku memaafkannya setelah ia memukulku saat orang normal tahu aku tidak bersalah. Kupikir ia sudah dewasa mengingat ia adalah kakak perempuanku. Seharusnya ia lebih mengerti. Tapi ia spesial. Sikapnya yang kekanakan dan caranya bertutur kata tidak sesuai dengan umurnya. Hal itu membuat dia menyebalkan.

***

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×