Grid.ID Networks | Minggu, 23 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Fettuccini Tengah Malam

  • Sabtu, 22 Juni 2013 23:00 WIB

Fettuccini Tengah Malam

Aku mengayuh sepeda ontelku yang merah butut, mengarungi ruteku yang biasa sepulang sekolah, memarkir sepedaku itu di ruko Pak Handi, seorang pria empatpuluhan pengusaha bengkel mobil yang merupakan teman setia ayahku. Kusapa beliau yang tengah sibuk di balik meja kasir memarahi pegawainya, dan berlari sambil menenteng tasku ke arah tempat favoritku: sebuah rumah makan bernuansa Eropa dengan desain interior yang terdiri dari mayoritas palet warna kalem khas alam yang selalu menebarkan aroma lasagna sedap ke sekitarnya. Nama restoran itu adalah Da'Pasta, satu-satunya tempat di dunia ini dimana aku bisa menjadi diriku sendiri dan bersenang-senang dengan nasibku tanpa diganggu.

 

"Kak Ruti!" sapaku, menarik-narik celemek dari Kak Ruti yang berseragam lengkap layaknya pegawai Da'Pasta lainnya, kemeja putih berlengan kembung yang dilapisi rompi tak berlengan merah marun. Kak Ruti tersenyum menatapku saat aku mengulurkan tangan. Ia mendesah lega dan menyerahkan nampan berisi piring kotor kepadaku. Dari peluh di keningnya, sudah kuduga ia lelah melayani para pembeli. Maklumlah, sedari dulu aku Da'Pasta ini memang laris manis di kotaku.

 

Sebelum Kak Ruti sempat bicara, seorang pelanggan langsung memanggilnya dengan gusar. Aku mengangguk dan kami berpisah dari sana. Dengan kakiku yang panjang dan kurus, aku melangkah cepat dan tangkas menuju dapur.

 

"Met sore, Mbok Ijah!" sapaku sambil meletakkan nampan beserta piring kotor itu di samping Mbok Ijah, si tukang cuci piring profesional Da'Pasta yang berperawakan gemuk, berumur tiga puluh lima, dan beranak kembar dua cowok enam tahun yang setiap hari Minggu ikut dibawanya kerja dan selalu berhasil membuatku naik darah. Mbok Ijah tersenyum ramah padaku, seperti biasanya, mengusap peluh di dahinya, kemudian kembali membenamkan kedua tangannya di rendaman air cuci piring yang berbusa putih bersih.

 

"Baru pulang sekolah,dek?" tanyanya ramah, senyumnya lebar seperti biasa. Maklumlah, ia pasti bahagia karena semenjak ada aku, selalu ada yang menjaga si kembar mengesalkan itu.

 

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×