Grid.ID Networks | Jumat, 28 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Geng Remedial

  • Sabtu, 30 November 2013 23:00 WIB

Geng Remedial

"Ha-ha-ha, remedial lagi," tawa mereka membahana seantero kelas setelah Pak Rudi, guru Fisika kami, keluar dari kelas.

 

"Ih, apaan, sih? Berisik!" gerutu Mia, teman sebangkuku, dengan wajah cemberut, "Remedial aja bangga. Heran!"

 

Aku menoleh tanpa kata meski hati ini juga jengkel mendengar tawa mereka yang cukup keras. Suara tawa itu berasal dari segerombol anak-anak yang terkenal dengan julukan geng remedial. Alin, Hani, Ega, dan Dea. Empat siswi yang rajin masuk babak remedial nyaris di semua ulangan. Duduk selalu di pojok kelas. Mereka kaum minoritas di kelasku.

 

Jika ada kaum minoritas, pasti ada kaum mayoritas. Yap, kaum mayoritas itu salah satunya ada aku di dalamnya. Geng anak-anak yang selalu menyabet peringkat sepuluh besar. Kumpulan anak-anak yang berlimpah pujian dari kalangan guru dan siswa. Penyumbang terbanyak piala dan piagam baik tingkat sekolah, kota, provinsi, bahkan nasional. Nama-nama yang dikenal oleh senior dan junior. Kami eksklusif. Popularitas sangat kami nikmati di masa muda yang indah.

 

Entah kenapa, setiap kali aku mendengar tawa Alin dan kawan-kawan, rasanya berbeda. Sebuah tawa lepas, tanpa beban. Aku tidak tahu apa yang ada di benak empat anggota geng remedial ini. Tidak ada raut sedih atau pun kecewa ketika guru mengumumkan mereka harus mengikuti remedial. Malah tawa cekikikan mereka yang menggema seolah mereka baru saja memenangkan sebuah kompetisi.

 

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×