Grid.ID Networks | Selasa, 25 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Secangkir Teh Vanilla

  • Kamis, 28 Agustus 2014 23:00 WIB

Secangkir Teh Vanilla

Siapa yang menyuruhku manyanyikan lagu ini? Pastilah penonton. Apa yang ada di otak mereka sampai tak bosan juga dengan lagu ini? Astaga, aku ingin muntah. Betapa membosankannya ratusan kali menyanyikan lagu yang sama. Lagu sedih yang teramat sendu. Tak adakah satu pun lagu bahagia untukku? Semua penonton menginginkan aku menyanyikan lagu sendu. Mereka bilang saat aku menyanyikan lagu sendu, mereka akan terbawa emosi sampai ke lubuk hati terdalam. Ah, siapa peduli. Tapi manajerku peduli, ia peduli uang lebih dari apa pun.

 

            "I Love you, Bian!" teriak penonton padaku.

 

            "I Love you, too!" balasku dengan gaya sok artis sambil melambaikan tangan. Tapi aku ini memang artis dan aku tidak suka itu.

***

 

            Pagi ini aku sudah berada di sekolah. Sebenarnya aku sering tidak masuk lantaran sibuk dengan dunia keartisanku. Halah.... Mungkin kau berpikir sebaiknya aku home schooling saja. Tapi tak semudah itu. Aku yang pada dasarnya tak mudah bergaul akan sulit untuk home schooling. Di sekolah umum seperti ini saja temanku bisa dihitung dengan jari, bahkan jariku kelebihan.

 

            Yang lebih menyedihkan, tak semua orang menyukai artis. Aku merasa bahwa manusia akan selalu mencari hal-hal yang berada jauh dari dirinya. Seperti pribahasa, semut yang jauh terlihat, gajah di pelupuk mata tak terlihat. Dan aku adalah gajah. Keluargaku tak menyukai lagu-lagu yang kunyanyikan, mereka bilang membosankan. Mereka malah menyukai penyanyi-penyanyi lain.

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×