Grid.ID Networks | Jumat, 21 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Sepucuk Amplop Cokelat

  • Minggu, 16 Juni 2013 23:00 WIB

Sepucuk Amplop Cokelat

Aku melangkah dengan berat hati. Mataku yang sembap ini tak dapat dipungkiri lagi. Ternyata, menangis semalaman memang sukses membuat mataku yang sipit ini semakin kelihatan kecil, ditambah wajahku yang bengkak dan merah. Namun itu belum apa-apa dibandingkan dadaku yang terasa sakit sekarang. Orang bilang, itu tandanya aku sakit hati. Hmm, aku tak tahu, dan tak mengerti. Apakah letak hati benar-benar di dada?

 

Suasana rumah duka itu terlihat ramai. Di ujung sana terlihat sosok yang kukenal. Tante Risa dan keluarganya, sedang menyambut tamu. Duka terpampang jelas di wajah Tante Risa. Senyum yang biasa kukenal lenyap begitu saja, digantikan dengan senyum lemah di bibirnya. Aku menarik nafas, dan berusaha tersenyum - menghampiri Tante Risa dan keluarganya.

 

Aku menundukkan kepala, memberi hormat kepada Tante Risa dan keluarganya, seraya berjabat tangan. Tante Risa mencoba tersenyum kepadaku, dan kemudian memelukku. Aku hanya bisa membalas senyum beliau sekedarnya. Kita semua tahu hati yang sedang terluka tak akan pernah bisa tersenyum tulus.

 

Acara di rumah duka itu dimulai dengan misa secara Katolik, karena keluarga Tante Risa memang penganut agama Katolik, kemudian kesan dari keluarga dan berbagai ritual lainnya. Aku hanya mengikuti itu layaknya seorang robot. Ketika acara selesai, aku menghampiri Tante Risa untuk berpamitan.

 

"Tante, Alit balik dulu, ya," ujarku seraya menyalim tangan Tante Risa.

 

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×