Grid.ID Networks | Minggu, 23 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Suara-Suara Di Malam Hari

  • Minggu, 16 Desember 2012 23:00 WIB

Suara-Suara Di Malam Hari

Winda mencet-mencet remote televisi dengan kesal. Sudah berkali-kali dia mengganti channel tapi belum juga menemukan acara yang disukainya. Suasana hati Winda memang sedang muram hari-hari ini. Dia bosan harus menonton acara-acara membosankan sepanjang hari, dia kesal seharian terpaksa menatap layar hitam-putih dan dia juga marah karena terkurung di rumah tua yang mengerikan itu.

 

            Winda mulai stress dan marah kepada semua orang. Dia marah kepada Neneknya yang tidak punya hiburan lain di rumahnya selain majalah terbitan sebelas tahun yang lalu dan TV rongsokan yang sudah tua, bobrok dan banyak semutnya. Dia marah kepada ibunya karena telah memaksakannya untuk tinggal di rumah neneknya yang bernama Euis. Dan dia juga marah kepada teman-temannya yang telah meninggalkannya di tempat itu sementara mereka semua berlibur ke pulau Bali.

 

            Semua pikiran itu bercampur aduk di dalam otaknya sehingga membuat kepalanya terasa mau meledak. Bayangkan, setelah bergulat dengan sederet ujian yang melelahkan, dia terpaksa menghabiskan seluruh masa liburannya di tempat itu. di rumah neneknya yang terletak di kompleks perumahan paling membosankan yang pernah Winda lihat seumur hidupnya.

 

            Tidak banyak yang bisa dilakukan di tempat itu. sejak tadi Winda menghabiskan waktunya dengan tidur, makan, nonton TV dan tidur lagi sampai akhirnya dia terbangun sore harinya dan mulai berkeliling kompleks. Tapi perumahan itu seperti kota mati. Suasana begitu sunyi karena sebagaian besar rumah di sekitar situ kosong. Sedangkan rumah yang berpenghuni sama sepinya dengan kuburan. Semua pintu dan jendela ditutup rapat-rapat seolah takut terkena virus, hampir tidak ada yang keluar rumah, tidak ada remaja seusianya yang bisa diajak bermain dan tak ada tanda-tanda kehidupan yang tampak di daerah tersebut.

 

            Akhirnya Winda pulang lagi ke rumah Nenek Euis dan mulai membaca majalah kadaluarsa yang dicetak sebelas tahun yang lalu. Setelah itu dia kembali menyetel televisi sampai sekarang. Sampai muak.

***

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×