Grid.ID Networks | Sabtu, 22 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Suatu Sore, di Kala Hujan

  • Kamis, 28 Agustus 2014 23:00 WIB

Suatu Sore, di Kala Hujan

"Kumohon...." Dunia di sekitarnya menggelap. Andrew berlutut dengan Reyna terbaring di hadapannya, mata terpejam dan genangan merah yang tercampur hujan terbentuk di sekitar tubuhnya. Lidah Andrew kaku, ia hampir tak sanggup menyelesaikan ucapannya. Namun lebih dari segalanya, ia tak sanggup kehilangan Reyna.

 

Sosok berjubah hitam itu berdiri tanpa menapak tanah. Hujan sama sekali tidak membasahinya ataupun sabit raksasa yang digenggamnya. Rupa tengkorak dengan mata yang kosong mengintip dari tudung kepalanya yang terpasang.

 

Ingatan dari beberapa menit yang lalu berkelebat dalam kepala Andrew, berputar dalam potongan gambar yang berlompatan.

 

 

Reyna menyukai alam, yang menjadi alasan mengapa mereka suka berhenti sejenak di pinggir jalan saat berkendara hanya untuk menikmati keindahan yang alam berikan. Awalnya Andrew menganggap bahwa itu adalah sebuah kebiasaan yang aneh, namun ia tak mempermasalahkannya, selama bisa melihat wajah tersenyum Reyna yang dibingkai rambut merahnya.

 

Reyna berkata, bahwa selalu ada hal yang spesial dari pepohonan untuknya. Mereka berbicara padanya, menyampaikan pesan dan menceritakan suatu kisah. Andrew bukan orang yang sangat imajinatif, dan pasti akan menanggap hal semacam itu omong kosong jika saja bukan Reyna yang mengatakannya. Namun kali ini, tanpa memaksa dirinya sendiri, ia dengan terkejut mampu menerima kata-kata itu.

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×