Grid.ID Networks | Rabu, 26 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Tentang Fara dan Waktu

  • Kamis, 23 Oktober 2014 23:00 WIB

Tentang Fara dan Waktu

"Waktu itu terjadi sekali aja, jadi enggak boleh disia-siakan," begitu motto Fara. Baginya tidak ada yang lebih penting daripada memanfaatkan waktu sebaiknya. Fara selalu memakai jam tangan hitam bermerk Swatch itu. Matanya tidak pernah lelah untuk melirik ke arah jam itu setiap saat, bahkan ketika menunggu istirahat sekolah selesai. Fara punya alasan sendiri mengapa ia seperti itu. Tidak akan ia memberi tahu alasannya pada siapa pun, kecuali Faris, pacarnya, dan Rina, teman dekatnya.

 

Hari ini Fara dan Faris janjian pergi ke sekolah bersama, lebih tepatnya Faris yang menjemput Fara di rumahnya. Kalau saja cowok itu telat sedikit, maka raut wajah Fara pasti akan berubah cemberut. Sialnya, peringatan Fara agar Faris tidak telat menjemputnya seperti tidak dihiraukan. Padahal Fara sengaja bangun lebih pagi. Fara sudah hampir 20 menit menunggu kedatangan Faris tapi bahkan tidak ada tanda-tanda cowok itu muncul di jalanan senggang depan rumah Fara. Gadis itu bolak-balik mengecek jamnya, menghentakkan kakinya ke jalanan juga mengernyitkan dahinya. Ia kesal. Faris di mana, sih? Udah jam 6:10 masih aja belum sampai. Dua menit lagi enggak datang, awas ya! katanya dalam hati.

 

Belum saja dua menit itu berlalu, akhirnya Faris menunjukkan batang hidungnya. Motor matic warna hitamnya yang ngebut seketika berhenti di depan Fara. Faris tampak kelelahan, dan terengah-engah. Peluh-peluh keringatnya juga bercucuran.

 

"Far...maaf ya tadi..motor aku...." kata Faris dengan napas tersengal-sengal. Fara malah menatap Faris dengan tatapan sinis, mengabaikan pernyataan Faris. Langsung saja ia duduk di jok belakang motor Faris. Faris tidak berkomentar lagi, hanya menghela napas sebentar. Faris tahu betul waktu adalah segalanya untuk Fara, untuk hal ini bahkan ia dinomor duakan, tidak jarang juga mereka bertengkar karena hal sepele seperti Faris yang sering nongkrong di kafe atau seringnya Faris lupa membalas pesan Fara karena terlampau asik bermain PlayStation bersama teman-temannya. Menurut Fara, itu semua tidak penting. Faris menggelengkan kepala, membuyarkan lamunan sesaat itu. Ia lalu menginjak pedal gas perlahan-lahan lalu meluncur ke sekolah.

 

***

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×