Grid.ID Networks | Jumat, 28 Juli 2017 | SIGN IN | SIGN UP

When 7 Days Left

  • Sabtu, 1 Februari 2014 23:00 WIB

When 7 Days Left

Itu aku? Aku bisa melihat diriku sendiri? Melihat tubuhku tergeletak di lantai keramik kamar mandi. Sedangkan aku sendiri berdiri menatapnya.

 

Apa-apaan, nih?

 

Aku masih menatap dengan syok saat tiba-tiba pintu kamar mandi menjeblak terbuka dan Cahya, kakak perempuanku, menerobos masuk dengan ayahku di belakangnya. "Ya Tuhan, ya Tuhan," suara Cahya gemetar sambil memeluk tubuhku yang terkulai di lantai dan masih memakai seragam abu-abu. Seragamku basah kuyup oleh air yang menggenang di mana-mana dari air keran yang mengalir tanpa henti. Tapi air itu tidak berwarna bening, melainkan keruh berwarna merah.

 

Aku membekap mulutku sendiri dengan leher tercekat. Tentu saja aku tahu apa yang sudah kulakukan. Dan kenapa pergelangan tanganku terus mengucurkan darah, lalu kenapa silet itu ada di sana. Aku tahu, tentu saja. Aku, kan, yang melakukannya.

 

Putus asa. Kecewa. Malu. Marah. Frustasi. Itulah yang telah kurasakan. Hampir semuanya bilang: "Duniamu tidak akan berakhir hanya karena ini, Lena. Semuanya pasti akan baik-baik saja." untuk menghiburku. Tapi mereka enggak mengerti! Enggak ada yang benar-benar paham. Saat menatap dua kata janggal pada surat pengumuman kelulusan itu tadi pagi. Hanya dua kata. Tapi dua kata itu sanggup mengaduk isi perutku dan membuat duniaku berputar.

 

Reporter : Astri Soeparyono
Editor : Astri Soeparyono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×