TULIS
ARTIKEL
 
SIGN IN | SIGN UP
Love,life & Sex Education

LGBT: Kenapa Seseorang Bisa Suka Sama Sesama Jenis?

  • Astri Soeparyono
  • Posted on : Rabu, 27 April 2016

Apa yang kamu tahu soal LGBT?

Mungkin kita pernah mendengar dan membaca tentang LGBT, atau lesbian, gay, biseksual, dan transeksual. Tapi, sudah seberapa jauh kita memahami soal hal ini? Yuk, pahami lebih lanjut tentang LGBT. Supaya kita tahu kenapa seseorang bisa suka sama sesama jenis.

 

(Baca juga: 5 Informasi Soal Fenomena LGBT di Indonesia yang Remaja Harus Tahu)

 

“Apakah homoseksual ini prilaku yang salah atau menyimpang?” (Nadia, 16 tahun, Bandung).

“Sekarang, homoseksual bukan lagi termasuk gangguan mental, begitu juga dengan biseksual,” jawab Bona. Sejak tahun 1973, American Psychiatric Association menyatakan bahwa homoseksual bukan lagi semacam gangguan mental dan pada tahun 1993, WHO mengeluarkan homoseksual dari dari daftar International Classification of Disease. Di Indonesia sendiri, Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa yang menjadi acuan bagi psikolog dan psikiater di Indonesia tidak lagi mencantumkan homoseksual sebagai gangguan jiwa sejak tahun 1983 lalu.

 

Orientasi seksual

Ngomongin soal identitas seksual, ada beberapa hal yang harus kita pahami. “Mudahnya, kita bisa membagi hal ini jadi tiga, fisik, perasaan dan otak. Fisik yaitu seks, alias jenis kelamin. Ini yang kita bawa sejak lahir dan bersifat menetap,” jelas Harry Kurniawan, project manager ASK Rutgers WPF, sebuah LSM yang peduli terhadap isu seksualitas dan kesehatan reproduksi. Harry melanjutkan, “Dalam perkembangannya, dalam diri kita akan muncul rasa suka atau tertarik terhadap suatu jenis kelamin. Ini disebut orientasi seksual, yaitu bagaimana seseorang merasa nyaman secara emosi dan seksual untuk berelasi dengan orang lain.”

 

Kita mengenal beberapa jenis orientasi seksual, seperti heteroseksual, yaitu tertarik secara emosional dan seksual terhadap lawan jenis, homoseksual, yaitu tertarik secara emosional dan seksual kepada sesama jenis, biseksual atau tertarik secara emosional dan seksual kepada cewek dan cowok, panseksual, yaitu tertarik kepada semua jenis manusia, serta aseksual, yaitu tidak tertarik kepada siapapun.

 

Terkait dengan otak

Selain orientasi seksual, hal lain yang harus kita pahami adalah identitas seksual. “Ini terkait tentang otak, yaitu apa yang kamu pikirkan tentang dirimu? Inilah yang dimaksud dengan identitas seksual, yaitu bagaimana kamu melihat dirimu dan kamu nyaman dengan itu. Kamu juga ingin orang lain mengenal dirimu sesuai yang kamu inginkan,” lanjut Harry. Dalam identitas seksual ini, kita mengenal istilah lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

 

Sehari-hari, banyak yang langsung menuduh bahwa seorang cowok yang terlihat kemayu atau feminin pasti gay. Atau sebaliknya, cewek tomboy seringkali dikira sebagai seorang lesbi. Padahal, ini belum tentu benar. “Setiap orang memiliki maskulinitas dan feminitas. Masalahnya, sisi mana yang dominan? Ini disebut ekspresi seksual, yaitu bagaimana seseorang menampakkan dirinya. Dan, ekspresi ini enggak sama dengan orientasi seksual, sehingga cowok yang feminin belum tentu seorang gay, begitu juga dengan cewek yang tomboy, enggak selamanya mereka lesbi,” jelas Harry.

 

(Baca juga: 4 Bagian Otak Yang Mempengaruhi Proses Jatuh Cinta)

1 2 3

Penulis :

  • Astri Soeparyono

  • Editor in Chief untuk cewekbanget.id by day, blogger by night. Email me at astri@gramedia-majalah.com :*

KOMENTAR KAMU :

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
v