Grid Networks | Senin, 23 April 2018 | SIGN IN | SIGN UP

Usia Remaja Saatnya Untuk Belajar & Mengembangkan Potensi Diri, Bukan Untuk Menikah

  • Senin, 16 April 2018 17:54 WIB

Yuk kita tolak praktik pernikahan dini | .

(Baca juga: 5 hak perempuan yang masih sering terabaikan dan terenggut begitu saja)

Yup, ada beberapa daerah di Indonesia yang menganggap lumrah hal ini. Bahkan, ketika seorang remaja tidak menikah, bisa saja mereka menerima desakan dari lingkungan sekitar untuk segera menikah.

undefined
Beberapa daerah di Indonesia yang menganggap lumrah pernikahan dini
Usia Remaja Belum Saatnya Menikah

Seumur hidup, kita melewati berbagai fase, mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa pertengahan, dan seterusnya. Di antara semua fase ini, di usia remajalah kita mengalami perubahan paling banyak. Baik dari segi biologis, atapun psikologis.

Dari segi biologis, tubuh mengalami perubahan, salah satunya mulai matangnya organ seksual, baik primer maupun sekunder dan kita pun siap untuk bereproduksi. Hal tersebut juga diikuti dengan adanya perkembangan kognitif, yaitu kita mulai merasakan adanya dorongan seksual dan ketertarikan terhadap lawan jenis.

Namun, apakah hal itu membuat kita sudah siap untuk menikah?

Sebelumnya, kita juga tidak bisa mengabaikan faktor psikologi. Menurut psikolog Roslina Verauli, seseorang dinyatakan dewasa yaitu ketika dia berusia di atas 20 tahun, dan di saat inilah seseorang sudah mengalami kematangan dalam hal perkembangan emosional dan sosial.

“Dari segi biologis memang sudah matang, tapi bukan berarti begitu menstruasi pertama kita sudah langsung siap untuk hamil dan melahirkan. Hal ini juga harus dikaitkan dengan faktor psikologis. Individu dianggap siap secara mental ketika berusia di atas 20 tahun sehingga dia bisa mengeliminasi risiko dan menghilangkan dampak yang mungkin timbul akibat pernikahan dini,” jelas Vera.

Ada banyak risiko yang mengintai dan diprediksi akan terjadi jika kita menikah di saat sebenarnya kita belum siap.

Dampak lainnya seperti hamil dan melahirkan di usia dini bisa meningkatkan risiko kematian pada ibu karena organ reproduksi yang belum sepenuhnya matang dan masalah keuangan. “Sehingga bisa terjadi perceraian dan pernikahan yang tidak bahagia, itu salah satunya karena kita belum siap mental dan mandiri secara emosional untuk mengatasi setiap masalah,” jelas Vera.

Reporter : Ifnur Hikmah
Editor : Ifnur Hikmah

KOMENTAR

TULIS
ARTIKEL
EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×