Grid.ID Networks | Selasa, 22 Agustus 2017 | SIGN IN | SIGN UP

13 Alasan Kamu Harus Jadi Creator di Cewekbanget.id

  • Senin, 9 Januari 2017 12:30 WIB

Spread the love, girls! | https://id.pinterest.com/pin/481181541406571884/

Ketika masa pembuatan cewekbanget.id dimulai, ada sebuah pertanyaan dari bos saya, “Yakin, nih, harus tentang website memberdayakan cewek? Bukankah sekarang cewek bisa jadi apa saja?” Pertanyaan senada terus bergulir, bahkan setelah cewekbanget.id sudah di ambang tayang. Astri, managing editor cewekbanget.id, pernah ‘dikeroyok’ pertanyaan ini. Saya ngomongnya ‘dikeroyok’ karena di saat itu dia lagi sendirian makan dan sekelompok lelaki datang ke mejanya, lantas pembicaraan lantas mengerucut menjadi, “Emang masih perlu women empowering content?”

 

Jujur, kita memang menyaksikan banyak kemajuan untuk cewek di Indonesia. Saat ini Indonesia memiliki sembilan menteri perempuan. Ini adalah jumlah menteri perempuan terbanyak dalam sejarah Indonesia, serta nomor satu terbanyak di dunia (nomor dua diduduki Uni Emirat Arab (UEA) dengan delapan menteri perempuan, tapi di UEA berlaku peraturan yang mewajibkan perempuan mendapat izin dari suaminya untuk bekerja *insert emoji sedih*). Studi lembaga konsultan bisnis Grant Thornton tahun 2016 juga menunjukkan jumlah perempuan karir Indonesia yang menduduki posisi penting di sebuah perusahaan atau posisi top manajer menempati urutan keenam di dunia dengan persentase 36%.

 

Ini adalah berita baik untuk para cewek. Tapiiii, sayangnya menurut penelitian Qerja terhadap 300.000 sampel data gaji karyawan dari berbagai industri pada tahun 2014-2016, ada ketimpangan gaji antara perempuan dan laki-laki di Indonesia sebesar 12,36 persen. Ini berarti untuk beban kerja yang sama rata-rata pekerja cewek hanya digaji 87,6 persen dari rekan kerja cowok. Salah satu penyebabnya menurut Deputi Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Sulistri, ketika melamar pekerjaan, cewek pada umumnya tidak bernegosiasi sebaik cowok. Malah seringkali kebanyakan cewek menghindari bernegosiasi sama sekali dan menerima tawaran yang ditawarkan oleh calon bosnya, kata Sulistri. Kalau ditelusuri lebih lanjut ini karena kebanyakan cewek dididik sejak kecil untuk tidak bersikap agresif. Stereotip cewek lembut, nrimo dan kalem cenderung lebih disukai. Stereotip semacam ini yang sadar tidak disadari mulai terinternalisasi semakin kuat saat menginjak remaja.

Women like men only cheaper

Masa remaja merupakan salah satu masa paling krusial yang dihadapi manusia, terutama cewek. Ini adalah masa menstruasi pertama kali terjadi. Ketika payudara mulai terbentuk. Ketika cewek mulai merasakan gejolak hasrat seksual terhadap orang lain begitu pun orang lain terhadap kita. Ketika mulai dibombardir informasi dari berbagai penjuru tentang definisi kecantikan, di saat yang sama jerawat bermunculan, kulit berminyak, tubuh mulai menampakkan bentuknya. Bahkan saat belum beradaptasi dengan tubuh, perlahan orang-orang mulai mengatur cara berpakaian. “Supaya enggak menarik perhatian yang enggak diinginkan,” begitu mereka berbicara sehingga sebagai cewek, seolah kita tak berkuasa atas tubuh ini. Faktanya ketidakberdayaan perempuan terhadap tubuhnya adalah adalah salah satu yang membuat satu dari tiga perempuan di seluruh dunia pernah mengalami kekerasan seksual. Coba tanyakan pada perempuan di sekitar kita, pernahkah mengalami kekerasan seksual? Dari dipanggil, “Hai cantik,” dicolek tanpa izin, dikomentarin bagian tubuh tertentu sampai mungkin diperkosa. Pasti ada yang pernah. Pasti ada. Dan kita masih enggan bicara soal ini karena dirasa memalukan atau tabu.

 

Lain soal ketika menyangkut masa depan. Penentuan jurusan kuliah seringkali harus berkompromi dengan orangtua akan jurusan yang hendak diambil. Kadang muncul obrolan, “Enggak usah sekolah tinggi-tinggi. Nanti juga nikah.” Perlahan-lahan pernikahan dan menjadi ibu mulai ditekankan sebagai tujuan utama bahkan kodrat yang harus dilakukan oleh perempuan. Faktanya satu dari tujuh perempuan di Indonesia telah menikah di bawah usia 18 tahun.

 

Reporter : aris programmer
Editor : Trinzi Mulamawitri

KOMENTAR

TULIS
ARTIKEL
EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×