Lebih dari 50% remaja Indonesia, menurut hasil survei yang dilakukan Cewekbanget.id.memanfaatkan internet, khususnya media sosial untuk PDKT. Setelah pacaran pun, kita menjadikan media sosial sebagai tempat menunjukkan kasih sayang. Enggak berakhir di sana, ketika putus, media sosial kembali menjadi dilema, terlihat dari hampir 40% responden mengaku putus akibat akitivitas di media sosial.

Lahir dan besar bersamaan dengan berkembangnya teknologi informasi dan digital, menjadikan generasi Y (millennial) dan generasi Z melek internet. Sehingga, enggak heran jika seluruh tindak tanduk kita terekam dalam dunia maya. Termasuk, semua aktivitas yang terkait dengan cinta.

Berdasarkan hasil survei Data Statistik Pengguna Internet Tahun 2016 APJII (Asosiasi Jasa Penyelenggara Internet),

Dari hasil survei yang sama, ditemukan juga fakta bahwa media sosial adalah konten internet yang paling sering diakses dengan angka pengguna mencapai

Enggak terkecuali untuk urusan percintaan. Mulai dari tahap PDKT, pacaran hingga putus, internet memegang andil cukup penting di dalamnya.

Saat ini, media sosial jadi sarana PDKT paling digemari.


Dua Alasan Utama Menggunakan Media Sosial Saat PDKT

Media Sosial dan Aplikasi Chat yang Sering Digunakan

Bentuk PDKT Melalui Media Sosial

Alasan PDKT Secara Daring

“PDKT lewat media sosial itu gampang. Komunikasi jadi lebih lancar. Selain itu, malu aja kalau PDKT secara langsung karena kalau ketahuan bakal diledekin satu sekolah sedangkan kalau lewat medsos kan yang tahu kita dan temen deket aja. Jadi ya, deket di medsos saling diem di sekolah. Ha-ha.”

(Nayla Hana, 15 tahun – SMAS Al Bayan)

Meski sering menggunakan media sosial sebagai jalan untuk dekat dengan gebetan, tapi enggak selamanya cara ini selalu berhasil. Alasannya:

“Yang bikin gagal PDKT online karena enggak nyambung, soalnya yang satu penginnya ketemu, yang satu sukanya ngobrol di medsos saja. Jadi di situ sih engak nyambungnya.”

(Yoriko Angeline, 15 tahun, selebriti)

Teknologi juga mengubah pola komunikasi menjadi lebih mudah. Keberadaan aplikasi social chatting dan media sosial membuat kita bisa terus terhubung dengan pacar. Tentunya, pola komunikasi seperti ini diharapkan akan membuat hubungan dengan pacar jadi semakin dekat. Atau malah sebaliknya? Pola komunikasi yang bisa dibilang mudah ternyata malah menimbulkan banyak masalah.


Di satu sisi, media sosial saat ini menjadi tempat untuk menunjukkan hubungan kita dan sang pacar. Dari hasil survei ditemukan,

Tanggapan Tentang Tindakan ‘Mengumbar’ Kemesraan di Medsos

“Aku salah satunya yang mungkin sering menunjukkan kemesraan bersama pacar di media sosial. Tetapi asal masih dalam batas wajar, semisal tidak peluk apalagi skinship lainnya, itu masih sah-sah aja. Akun tersebut memang akun pribadi, tetapi pengguna instagram banyak, jadi saling menghargai itu harus.”

(Syifa Hadju, 17 tahun, selebriti)

“Mengumbar kemesraan itu sebenarnya enggak penting. Tetapi kalau sekadar pasang foto atau nama pacar di media sosial itu wajar karena itu bentuk dari sebuah pengakuan. Aku pribadi menganggap itu enggak penting, tapi pacar aku menganggap penting jadi aku pasang karena menghargai perasaannya.”

(Afifah Aprilia - Universitas Diponegoro, 19 tahun)

Jadi, sebenarnya perlu enggak sih berbagi informasi soal password dengan pasangan? Beberapa pakar hubungan percaya bahwa ada beberapa hal dari pasangan yang harus tetap dirahasiakan, salah satunya password medsos. Psikolog Kelly Campbell, PhD dari California State University menyebutkan,“memang tergantung masing-masing pasangan, tapi akan lebih baik jika kita tetap memiliki kebebasan. Semakin dekat dengan pasangan memang akan lebih bahagia. Tapi lebih bahagia lagi jika tetap memiliki rahasia dan privasi.”

“Gaya pacaran aku saling percaya aja sih, kalau dia kasih password malah aku enggak mau. Daripada aku bete padahal hal itu sepele banget jadi mending aku enggak tahu sama sekali. "

(Vanesha Prescilla, 18 tahun, selebriti)

"Kalau awal sih enggak ya kasih password sama pacar, tapi ketika sudah saling kenal banget satu sama lain, udah enggak ragu sih buat terbuka. Palingan malu aja kalau pacar lihat chat aku ke teman karena isi chat-nya sih konyol ha-ha. "

(Gusti Rayhan, 16 tahun, selebriti)

Hubungan yang tadinya berjalan lancar, tiba-tiba mendapat gejolak hanya karena sebuah postingan di media sosial. Realita seperti ini sering banget ditemukan, terutama di kalangan remaja, yang salah satu sumber pertengkaran bisa berasal dari media sosial.

Penyebab Berantem dengan Pacar di Medsos

“Aku orangnya iseng dan ngeselin. Ketika ada temennya pacar, aku sengaja jailin dan bercandain di medsos buat dia cemburu padahal aku bercanda saja sih. Terus pacar marah deh, he-he.”

(Debo Andryos, 20 tahun, selebriti)

Putusnya suatu hubungan, kadang juga disebabkan oleh aktivitas di media sosial, seperti:

Begitu pun setelah putus, media sosial masih menjadi saksi dari perjalanan hidup kita. Ketika mengawali hubungan dengan PDKT di media sosial, mengabadikan hubungan dengan pacar di media sosial, ketika berakhir pun, peranan media sosial masih ada.


“Kalau unfollow gitu childish banget ya, putus kalau alasannya benar pun harus baik-baik juga.”

(Vanesha Prescilla, 18 tahun, selebriti)

Permasalahan lainnya, bagaimana dengan foto yang sudah terlanjur di-upload semasa masih pacaran?

“Hapus foto sih iya, tapi unfollow enggak. Palingan pas enggak unfollow terus lihat mantan udah sama pacar baru rada nyesek sih ya, ha-ha.”

(Gusti Rayhan, 16 tahun, selebriti)

“Menghapus foto mantan dari media sosial pernah karena itu salah satu cara untuk move on. Selain itu, kita juga saling menjaga perasaan orang yang lagi dekat sama kita atau yang lagi dekat sama mantan kita.”

(Kania Farradita, 22 tahun, Universitas Jenderal Soedirman)

Pun berlanjut setelah putus. Rasa ingin tahu membuat 56% responden mengaku masih sering mencari tahu info soal mantan, entah itu karena sedang iseng atau tiba-tiba teringat mantan.

Stalking mantan itu seperti proses rehabilitasi bagi diri kita karena enggak mungkin kita benar-benar langsung move on. Jadi step by step bisa dilalui dengan bantuan stalking. Tetapi dari awal kita harus tahu perasaan kita juga. Kalau sakit hati karena stalking mantan, mending enggak usah dilakukan sama sekali dan fokus move on.”

(Salma Sania - SMA NU 1 Gresik, 18 tahun)

Pada akhirnya, kita harus paham bahwa hubungan yang sebenarnya itu terjadi antara dua orang. Kadang kita suka lupa menghabiskan waktu bersama pacar dengan saling bicara langsung, dan seringnya berkomunikasi lewat media sosial.

Dan, kamu, bagaimana dengan hubunganmu dan pacar?

Creative Writer:
Putri Saraswati, Kinanti Nuke

Web Designer:
Amanda Siswandani

foto: thinkstock.com, dok. pribadi, dok. Nova