vote komodo (or not?)

By , Rabu, 2 November 2011 | 16:00 WIB
vote komodo (or not?) (cewekbanget)

Seperti yang sudah kita ketahui, sejak beberapa saat lalu, rakyat Indonesia didorong untuk menyumbang suara buat menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia lewat situs www.new7wonders.com. Tapi belakangan, banyak berita beredar yang mempertanyakan keabsahan yayasan New7Wonders (N7W) sebagai penyelenggara kompetisi ini.     

Masalah mulai muncul saat Djoko Susilo, Duta Besar RI untuk Swiss, memberikan keterangan tertulis yang mempertanyakan kredibilitas Yayasan N7W tanggal 2 November kemarin. Menurut Djoko, para pemimpin Redaksi Harian Nasional Swiss bahkan tidak mengenal  keberadaan Yayasan tersebut. Tim dari Jakarta yang dibantu staff KBRI Bern juga mengadakan kunjungan ke alamat yang disebut-sebut sebagai kantor Yayasan N7W, dan menemukan bahwa alamat tersebut adalah alamat Museum Heidi Weber yang hanya dibuka saat musim panas (bulan Juni sampai Agustus). Masih menurut Djoko, masyarakat Swiss sendiri tidak mengenal Yayasan N7W dan menyebutkan bahwa yayasan tersebut bukanlah bagian dari UNESCO. Karena semua fakta ini, Djoko menyarankan pemerintah Indonesia untuk menghentikan kampanye soal Komodo. Ia juga khawatir kalau kampanye ini hanyalah usaha yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan.

Ketua Pemenangan Pulau Komodo, Emmy Hafild, membantah berita tersebut. Menurut Emmy, isu seputar N7W, seperti keberadaan Yayasan N7W, adalah isu-isu lama yang diangkat kembali. Menurut Emmy, isu-isu ini sengaja diangkat untuk mencabut keikutsertaan Komodo dari kompetisi N7W. Selain itu, Emmy juga menanggapi pernyataan KBRI tentang N7W. Ia heran kenapa pihak KBRI menilai N7W sebagai organisasi yang tidak kredibel, padahal organisasi ini sudah membuat kompetisi keajaiban dunia sejak tahun 2000-2007. Emmy juga menyatakan bahwa N7W adalah organisasi modern yang bekerja secara cyber, sehingga wajar jika mereka tidak memiliki kantor besar yang berlokasi tetap. Pernyataan Emmy juga didukung oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga menjabat sebagai duta Pulau Komodo. JK juga meyakinkan bahwa N7W adalah organisasi yang diaudit oleh akuntan internasional sehingga masyarakat enggak perlu khawatir soal dana yang masuk ke organisasi tersebut. Menurut JK, jika dukungan lewat SMS dinilai memiliki tujuan komersial, rakyat bisa menyumbang suara lewat internet secara gratis.

Membaca berbagai berita yang beredar dan opini para pejabat pasti bikin kita bingung, ya. Iyalah, si A bilang begini dengan memberikan bukti-bukti yang sangat meyakinkan. Ehhh, dibalas oleh si B dengan bukti yang enggak kalah meyakinkannya. Hu hu hu... jadi mesti gimana dooong? Sementara batas waktu vote tinggal sebentar lagi (voting akan ditutup tanggal 11 November 2011). Hmm... sebenarnya itu terserah kita, sih. Mau kirim SMS atau telepon atau vote lewat internet, semua boleh kita lakukan. Sama seperti kita juga punya hak untuk enggak melakukannya. Yang penting, kita enggak perlu mengait-ngaitkan masalah voting Pulau Komodo ini dengan nasionalisme, seperti yang banyak digembar-gemborkan oleh sekelompok orang belakangan.

Nasionalisme, sayangnya, enggak bisa dinilai dari berapa banyak SMS yang kita kirim. Atau berapa sering #ILoveIndonesia dan sebagainya jadi trending topic di Twitter. Karena kalau iya, bisa jadi kita adalah bangsa paling nasionalis di muka bumi ini, he he he. Nasionalisme, sama seperti ketika kita bilang "I Love You" ke cowok, enggak bisa dinilai cuma dari kata-kata. Harus ada bukti nyata, tindakan yang kita lakukan buat membuktikan seberapa cintanya kita sama Indonesia. Kalau enggak, jangan-jangan kita cuma gombal saja...

Untuk urusan komodo, nasionalisme kita bisa dinilai dari seberapa banyak informasi yang kita ketahui tentang binatang langka ini. Dan apa yang bisa kita lakukan untuk melestarikan komodo dan habitatnya. Misal, daripada liburan ke luar negeri, kenapa kita enggak ajak keluarga atau teman liburan di Pulau cantik ini? Dan pastikan kita enggak mengotori habitat mereka. Buat pemerintah, aksi cinta kepada komodo bisa ditunjukkan dengan memperbaiki infrastruktur di daerah tersebut. Coba bayangkan kalau komodo benar-benar menang di ajang N7W dan banyak turis asing (atau domestik) datang dan menemukan bahwa tempat ini ternyata enggak secantik yang ada di bayangan mereka. Misal, airport atau tempat-tempat akomodasi yang kurang layak. Pemerintah dan masyarakat juga harus sama-sama memastikan kelangsungan hidup binatang langka ini. Jangan sampai, kita cuma bangga sama komodo, tapi enggak peduli apakah mereka akan terus ada atau enggak.

Jadi, apakah kita sudah tahu harus vote komodo atau enggak? He he he. Biarkan hati nurani yang bicara *halah!* Tapi yang pasti, jangan pernah lelah untuk selalu mendukung Indonesia. Bukan cuma komodo, karena percaya deh, di Indonesia banyaaak banget tempat-tempat yang enggak kalah indah dengan Pulau Komodo. Cintai Indonesia, dukung Indonesia, dan lakukan sesuatu buat Indonesia. Mari.