Tetap Eksis Tanpa Ikut Jadi Cewek Cabe-Cabean

By Marti, Senin, 23 Desember 2013 | 16:00 WIB
Tetap Eksis Tanpa Ikut Jadi Cewek Cabe-Cabean (Marti)

Girls, akhir-akhir ini istilah cabe-cabean memang lagi hits banget. Sebenarnya apa, sih, maksud istilah itu? Secara umum, istilah ini berhubungan dengan dua hal, yaitu cewek dan motor. Cewek cabe-cabean ini identik dengan remaja cewek yang sering keluar malam untuk nongkrong dan menonton balap liar di jalanan. Kadang, mereka juga dijadikan bahan taruhan di antara cowok yang mengikuti balapan ini. Di tingkat yang lebih ekstrem, cewek-cewek ini dijadikan bahan taruhan untuk berhubungan seks dengan pemenang balapan tersebut.

Sekarang, cewek-cewek ini enggak hanya ada di arena balap aja, tapi bisa ditemukan di hampir semua tempat nongkrong cowok. Seperti di pinggir jalan tempat anak-anak motor suka ngumpul, di bengkel, area balap liar di malam hari, atau sekadar nongkrong di bawah fly over bareng cowok-cowok di malam hari. Tapi, ciri-cirinya masih sama, yaitu suka naik motor bertiga dengan memakai hot pants dan makeup lengkap serta selalu ngomongin cowok. Yang membuat hal ini jadi pembicaraan umum yaitu karena cewek-cewek ini seperti memaksakan tren yang sebenarnya enggak pas untuk diikuti.

Menurut ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Aries Merdeka Sirait, seperti dikutip dari Detik.com, fenomena ini merupakan bentuk dari keputusasaan remaja cewek. Dan, hal ini enggak lepas dari kurangnya pengawasan dari orangtua sehingga anak bebas untuk melakukan apa saja. enggak adanya sanksi dari orangtua atau pihak lain juga membuat kita merasa sah-sah saja melakukan hal ini.

"Hal ini merupakan bentuk perubahan prilaku sebagai akibat dari bentuk kefrustasian remaja. Artinya, pengawasan orangtua enggak terlalu ketat sehingga anak-anak bebas keluar rumah malam hari," ujar Aries.

Hal senada juga disetujui oleh psikolog Seto Mulyadi atau yang biasa dipanggil Kak Seto. Seperti dikutip dari liputan6.com, Kak Seto bilang kalau fenomena ini terjadi karena kurangnya perhatian orangtua atau pola pendidikan keluarga yang kurang tepat sehingga anak merasa enggak nyaman dan mencari tempat lain yang membuatnya merasa nyaman.

Memasuki usia remaja, wajar jika kita pengin eksis, terutama di kalangan cowok-cowok. Tapi, bukan berarti kita harus mengikuti tren ini agar diakui oleh cowok-cowok, girls. Biar enggak ikut-ikutan melakukan hal ini, kita bisa eksis di bidang lain. Tentunya yang lebih positif dan bermanfaat bagi masa depan kita.

"Remaja ini bisa menyalurkan emosi dan keinginannya dengan mengikuti kegiatan positif seperti les atau kursus," ujar Kak Seto. Benar banget, girls. Kita bisa mengembangkan bakat yang dimiliki, seperti misalnya bakat menggambar dan menari dengan mengikuti les atau perlombaan sehingga kita pun bisa eksis dengan cara positif.

Selain itu, kita juga harus punya pendirian agar enggak mudah diajak oleh teman untuk melakukan hal ini, girls. meski teman-teman memilih untuk nongkrong di pinggir jalan bareng anak motor setiap malam, kita enggak harus ikut-ikutan agar dibilang setia kawan. Kita juga bisa mengalihkan perhatian teman dengan mengajak mereka melakukan kegiatan lain seperti olahraga bareng, belajar kelompok atau kegiatan lain yang sesuai dengan hobi kita. Kita pun bisa seru-seruan bareng teman tanpa harus mengikuti tren ini.

(iif. foto: )