TULIS
ARTIKEL
 
SIGN IN | SIGN UP
Love,life & Sex Education

6 Pelajaran Tentang Social Media dari Blogger Yang Berhenti 'Main' Instagram

  • Natasha Erika
  • Posted on : Rabu, 4 November 2015

6 Pelajaran Tentang Social Media dari Blogger Yang Berhenti 'Main' Instagram

Saat ini kita memasuki era di mana kehidupan seseorang diukur dari media sosial. Kesuksesan, kekayaan, kecerdasan, kepintaran, kebaikan dan popularitas semata-mata dilihat dari tiga indikator: foto yang diunggah, jumlah followers dan likes.

 

Hal itu tampaknya membuat seleb Instagram Essena O'Neill undur diri dari hingar bingar media sosial. Padahal, banyak orang yang iri melihat kehidupan O'Neill yang sebelumnya gencar ia pamerkan lewat akun Instagram, YouTube, Tumblr dan Snapchat.

 

Baca juga: 7 Fakta Seru Tentang Akun Instagram Para Member EXO

 

Ini foto Essena O'Neill di Instagram dengan Essena O'Neill di kehidupan nyata.

 

1. Social media bukan ajang keren-kerenan

"Enggak ada yang keren dari dirimu jika yang kamu lakukan hanya mengunggah foto hasil editan ke media sosial untuk membuktikan bahwa kamu keren," kata O'Neill dalam unggahannya di situs bertajuk "Let's Be Game Changers".

 

Di situs tersebut, O'Neill mengunggah video-video provokatif tanpa sentuhan make-up dan baju-baju mewah. Ia juga mem-posting hal-hal positif tentang musik, buku, kesetaraan gender, teknologi dan makanan sehat.

 

2. Dan, bukan tempat untuk menipu diri sendiri

O'Neill yang baru berusia 18 tahun memulai "karir" sebagai blogger fesyen. Kemudian ia merambah ke sektor fitnes dan terakhir sebagai remaja cantik yang doyan pamer foto busana sehari-hari di Instagram.

 

Ia memiliki lebih 265.000 pengikut di YouTube dan 702.000 pengikut di Instagram. Tapi hal itu, menurut pengakuannya, enggak membuat O'Neill bahagia. Kini, akun-akun tersebut ia gunakan untuk mengkampanyekan gerakan "berhenti menipu diri sendiri lewat media sosial".

 

3. Jangan membandingkan diri dengan orang lain

"Saya menghabiskan kehidupan remaja saya untuk status sosial, penerimaan sosial, dan penampakan fisik yang basisnya adalah media sosial. Itu semua enggak nyata. Itu semua manipulasi untuk saling membandingkan diri dengan orang lain," ia menjelaskan.

 

Ini dia salah satu foto O'Neill dulu. Ia merasa kehidupannya enggak sebahagia yang tampak di foto-foto dunia maya.

 

Baca juga: 5 Cara Dapat Respon dari Seleb Idola di Instagram

 

4. Social media dapat menimbulkan rasa minder pada remaja

Menurut O'Neill, kecenderungan anak muda menghabiskan waktu berjam-jam menggulir linimasa media sosial menggoreskan luka mental tersendiri. Rasa minder, narsisme, ingin pamer, ingin diakui, hingga pada akhirnya memicu depresi.

 

Sebab, semua orang berlomba-lomba menunjukkan kehidupan paling sempurna di media sosial. Walau mereka (atau kita) harus berbohong untuk itu. Maniak media sosial ingin menampilkan wajah paling cantik, liburan paling mahal dan prestasi paling gemilang.

 

Padahal, foto-foto yang diunggah adalah hasil bidikan beratus-ratus kali dengan pengeditan super lama. "Saya dulu seperti itu," ujarnya.

 

5. Jangan melupakan kehidupan di dunia nyata

O'Neill enggak menyalahkan Instagram atau para pendiri media sosial. Sebab, media sosial seyogyanya lahir dengan maksud mulia: memudahkan komunikasi antar manusia menembus jarak dan waktu.

 

Hanya saja, pemanfaatannya telah berkembang jauh dari tujuan awal. Seenggaknya itu penilaian O'Neill. Saat ini, kata dia, media sosial membuat manusia lupa akan indahnya kehidupan nyata.

 

Bersosialisasi dengan orang-orang, mengobrol dan berdiskusi tentang hal-hal yang signifikan, berbagi, belajar hal-hal baru dan menemukan ketertarikan-ketertarikan dunia yang mungkin enggak terlihat karena manusia modern terlalu fokus dengan kehidupan maya.

 

Dalam video, ia mencurahkan isi hatinya. Ia bercerita kalau dirinya sekarang enggak bisa membayar biaya hidup. Ia pun terlalu malu untuk meminta pertolongan pada orang lain.


6. Menjadi diri sendiri di social media itu penting

"Saya enggak sabar melihat orang-orang berhenti membatasi diri mereka dengan kebahagiaan semu di dunia maya. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain berdasarkan media sosial. Mulailah lihat pesona diri sendiri," kata dia.

 

Sebab, menurut O'Neill, semua orang memiliki keunikan, kreativitas, hasrat dan tujuan masing-masing. Terlalu lama menggulir linimasa media sosial membuat manusia modern kehilangan produktivitas dan ide-ide brilian.

 

"Jangan biarkan jumlah follower dan like mendefinisikan dirimu," kata dia.

 

Baca juga: Followers Taylor Swift di Instagram Paling Banyak Berasal dari Indonesia

 

(sumber: wicak hidayat/kompas.com, foto: the-file.com)

 

 

Penulis :

  • Natasha Erika

  • Cewek penggemar yoga ini, walau suka banget dengerin lagu-lagu The Beatles, sebenarnya juga seorang Swifty dan Directioner, lho. Hidup Tay-Tay Niall Liam Harry dan Louis! Oh iya, waktu SMA suka banget sama pelajaran sejarah! Ada yang suka juga?

KOMENTAR KAMU :

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
v