Grid Networks | Kamis, 18 Januari 2018 | SIGN IN | SIGN UP

Ada 593 Kasus Difteri di Indonesia, Gimana Gejala & Cara Menangani Difteri?

  • Selasa, 12 Desember 2017 17:45 WIB

Terdapat 32 kematian akibat difteri di 20 provinsi Indonesia. | Cewekbanget.id

Akhir-akhir ini kita sering mendengar penyakit yang disebut difteri.

Difteri biasanya terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, karena kesadaran akan pentingnya vaksin masih rendah.

Sejak Januari sampai November 2017, telah ada 593 kasus difteri yang dilaporkan pada Kementrian Kesehatan RI.

Terdapat 32 kematian akibat difteri di 20 provinsi Indonesia. Kejadian ini meningkat sekitar 42% dari tahun 2016 di mana ada 415 kasus dengan 24 kematian.

Enggak ada batasan umum pada penyakit difteri, karena dari sejumlah kasus tersebut, orang yang terjangkit berusia mulai dari 3,5 tahun sampai yang tertua 45 tahun.

Sebenarnya apa itu difteri dan bagaimana cara menanganinya?

(Baca juga: 7 Fakta Unik Yang Enggak Banyak Diketahui Tentang Labia, Si Bibir Vagina)

Apa itu difteri?

Difteri merupakan infeksi menular akibat bakteri Corynebacterium.

Corynebacterium adalah bakteri yang menyebarkan penyakit melalui udara, benda pribadi, juga peralatan rumah tangga yang terkontaminasi.

Biasanya kita akan merasa sakit tenggorokan, demam, dan terdapat lapisan pada amandel serta tenggorokan.

Kalau enggak ditangani dengan baik, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf.

(Baca juga: Ini Dia 4 Jenis Selaput Dara Yang Kita Miliki. Kamu Wajib Tahu!)

Gejala difteri

Tanda-tanda terkena difteri yang paling menonjol adalah pada bagian tenggorokan dan mulut.

undefined
Cewekbanget.id/Grace Nathaniel

Tapi ada juga gejala difteri yang enggak kita ketahui, jadi kalau khawatir lebih baik langsung periksa ke dokter ya girls!

Merupakan penyakit menular

Bakteri penyebab difteri menyebar melalui udara, makanya kalau kita menghirup udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, kita bisa terkena difteri.

Hal ini biasanya merupakan cara penyebaran penyakit paling mudah, apalagi kalau kita berada di tempat yang ramai.

Kita juga bisa terkena difteri kalau menyentuh benda-benda yang telah terkontaminasi bakteri tersebut.

Misalnya, memegang tisu bekas orang yang terinfeksi, minum dari gelas yang belum dicuci, menggunakan handuk bersama orang lain, dan sebagainya.

Menyentuh luka yang terinfeksi juga bisa membuat kita lebih mudah terkena bakteri penyebab difteri.

(Baca juga: Menurut Psikologi, Ini Alasan di Balik Cewek yang Suka Merebut Pacar Orang)

Bisa berdampak fatal

Pertama-tama, bakteri akan menempel pada lapisan pernapasan dan menghasilkan racun yang membunuh jaringan sehat.

Setelah beberapa hari, bakteri ini dapat membunuh begitu banyak sel sehingga jaringan yang mati tadi membentuk lapisan keabu-abuan di hidung dan tenggorokan. Kita pun akan sulit bernapas dan menelan.

Kalau racun masuk ke aliran darah, difteri dapat menuju organ vital seperti jantung dan ginjal.

Ketika itu terjadi, difteri bisa menyebabkan kerusakan saraf, kerusakan otot jantung, kelumpuhan, dan gagal napas.

(Baca juga: 10 Pertanyaan Penting yang Wajib Cewek Ketahui Tentang Herpes)

Terdapat faktor pemicu

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kita terkena difteri:

undefined
Cewekbanget.id/Grace Nathaniel

Cara mengobati difteri

Saat kita terkena difteri, kita harus banyak beristirahat di tempat tidur dan membatasi aktivitas fisik.

Kita juga perlu isolasi ketat untuk menghindari penyebaran penyakit ke orang lain.

Jangan meremehkan penyakit ini, segera ke dokter supaya penyakit bisa ditangani.

Dokter akan memberikan suntikan antitoksin untuk melawan racun.

Kalau kita alergi terhadap antitoksin, beri tahu dokter supaya pengoban bisa disesuaikan.

Setelah itu dokter akan memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi.

Saat sudah sehar, dokter juga bisa memberi kita pendorong vaksin difteri untuk membangun pertahanan terhadap bakteri difteri.

Sebaiknya juga kita tinggal di rumah sakit agar dokter bisa mengawasi reaksi pengobatan dan mencegah penyebaran penyakit.

 

Sumber:

Hellosehat.com/Lika Aprilia Samiadi

Kompas.com/Gloria Setyvani Putri

Reporter : Intan Aprilia
Editor : Intan Aprilia

KOMENTAR

TULIS
ARTIKEL
EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×