Grid Networks | Jumat, 20 April 2018 | SIGN IN | SIGN UP

Belajar dari Annisa, Penyandang Disabilitas yang Didiskriminasi Ojek Online, Ini Cara Kita Memperlakukan Penyandang Disabilitas

  • Rabu, 28 Maret 2018 11:11 WIB

Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama seperti kita! | foto: pinterest.com

Kasus diskriminasi kepada penyandang disabilitas memang bukan kali pertama kita temui. Setidaknya, hal seperti ini mungkin sudah sering dialami teman-teman penyandang disabilitas kita.

Seperti halnya yang dialami oleh Annisa Rahmania, penyandang disabilitas rungu, yang disikriminasi oleh seorang ojek online, hari Selasa (27/3) tempo hari. Annisa akhirnya melaporkan kejadian tersebut langsung ke akun official ojek online tersebut, yakni GrabID.

Enggak berhenti sampai di Annisa, ternyata kasus yang menimpanya tersebut viral di media sosial Instagram berkat postingan dari Surya Sahetapy, aktivis sekaligus penyandang disabilitas rungu, serta di-repost oleh akun @dramaojol.id.

 

Diminta untuk repost lagi supaya pada belajar ya dan tidak ada kejadian lagi. (Postingan sebelum tiba-tiba dihapus mungkin direport siapa gitu karena dianggap melanggar etik instagram. Salahnya dimana ya? —> gangerti juga) . Tolonglah teman-teman untuk tidak menghakimi dengan kata-kata kasar, cukup menegur orang-orang seperti itu. Mereka perlu diingatkan agar lebih baik lagi. Positif yuk, bro-sis! Kasar dibalas kebaikan, menunjukan kita sebagai manusia yang disayangi Tuhan! Mudah-mudahan! . Kenapa tulisannya tidak mencerminkan Indonesia Ramah Disabilitas? Cc: @annisa_rahmania @dramaojol.id . Disarankan @rullyanjar untuk posting. Kalian perlu tahu! . Korbannya adalah Nia (@annisa_rahmania) pakai Grab (@grabid) dan Ibu Juniati pakai Go-Car (@gojekindonesia). Saya yakin beberapa teman-teman pernah mengalaminya (ternyata banyak yang mengalaminya ????). Bantu share ya! Supaya mereka diedukasi agar lebih melayani tanpa membeda-bedakan. . Pengalaman pribadi sih dari dulu sering nyebutin saya Tuli (supaya disms/dichat bukan ditelfon) dan memang sering diabaikan. Bagiku biasa (sebenarnya jangan ya). Tetapi kalau dihina sampai mati atau tidak mau, itu kurang ajar. . Update: @grabid sudah meminta maaf ke pihak yang bersangkutan seperti @annisa_rahmania (sampai mereka bekukan, informasi lengkapnya ada si google) begitu dengan @gojekindonesia untuk Ibu Juniati. Kami memaafkan dan mohon ke depannya terutama pelatihan agar lebih peka kepada semua orang tanpa membeda-bedakan . Teman-teman Tuli yang pernah mengalaminya, mohon DM ya! Gagal analisa komen post sebelumnya karena terhapus sebagai bahan pertimbangan agar tidak ada kejadian demi kenyamanan teman-teman. Tetap ??????????!

A post shared by Surya Putra Sahetapy (@suryasahetapy) on

Banyak kecaman dan respon dari pengguna media sosial hingga mendapat tanggapan dari GrabID yang meminta maaf dan memberi konfirmasi, berikut juga keterangan yang disampaikan oleh pemilik akun pengemudi Grab yang viral tersebut.

 

Simak ya (https://youtu.be/FPo77dFlWoA / swipe up di IG Story) cc: @grabid @annisa_rahmania . Transkrip (thanks @puteepayne dan beberapa teman bantu di komen): Assalamualaikum wr wb Nama saya Yuhana Rojab Saya pemilik akun grabbike atas nama Yohana Rojab plat nomeryang sekarang lagi viral di mesdos ya Katanya ngehina orang.... tuli yah? Saya mau klarifikasi aja, saya posisi di Sumedang saya udah lama banget gak narik grab, akun saya memang masih aktif, teman saya di Bekasi ada namanya Pak Alan, teman satu basecamp kebetulan dia ga ada akun grabbike, jadi saya percayakan akun saya dipinjemin ke beliau. . Terus, ya soal berita yang sekarang tersebar, maksudnya saya klarifikasi biar gak ada teror. Saya juga sumpah demi Allah yang melakukan bukan saya. . Saya juga sempat kaget dengar berita itu dari teman saya, saya konfirmasi langsung dengan Pak Alan. Pak Alan jawab ke sayanya gak merasa, dia tadi pagi sempat narik. Setelah itu dia matikan aplikasi dan gak narik lagi. Hm.. tadi saya tanyakan ke beliau masalah yang sedang viral, sayacek akun, sudah gak aktif . Ya... sekarang yang dikonfirmasi ke saya itu sih, mungkin ada kemungkinan akun ada yang hack, ada yang bajak. Karena saya sendiri gak ada akses ke akun saya sendiri, saya emailnya udah gak tau, plat nomer juga udah diganti plat nomer punya dia gitu loh. Saya juga gak nyangka bakal ada kejadian seperti ini lah . Ya mudah-mudahan kalau emang ada yang ngebajak, biar Allah yang bales. Kalau emang Pak Alan, mudah-mudahan ada balasan juga. Kalau misalkan emang dia ngelakuin kayak gitu, mungkin dia khilaf atau gimana saya juga gak ngerti. Ya intinya sekarang yang dirugikan saya, saya diteror. Banyak yang inbox di facebook. Ya kepikiran juga, nama saya sendiri kan yang lagi disorot yah . Jadi, saya buat video ini juga biar banyak yang tau juga itu yang login bukan saya. Kalau ada yang gak percaya bisa datang langsung, saya di Sumedang di kampung saya. Bisa tanya juga ke warga kampung di sini, apa saya hari ini ada dimana? Saya di kampung seharian, gak dimana-mana. Intinya yang ngelakuin bukan saya. Terimakasih banyak. Assalamualaikum

A post shared by Surya Putra Sahetapy (@suryasahetapy) on

Well, meskipun masalah ini sudah selesai, dengan tanggapan dan permintaan maaf dari pihak Grab dan pengemudi, kita enggak boleh cepat melupakan kejadian ini begitu saja. Diskriminasi tetaplah hal yang salah dan enggak seharusnya kita lakukan.

Sebenarnya pelajaran apa sih yang bisa kita dapatkan dari kasus Annisa dan diskriminasi yang dia alami ini? Yuk, simak artikel berikut!

Memiliki Hak yang Sama

undefined
Disabilitas seringkali dipahami berbeda kemampuan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai cara berbeda untuk melakukan sesuatu. Bahkan enggak jarang ada yang memberi stigma atau labeling seperti cacat, sakit, idiot, lumpuh, tuli, gagap, tidak normal, dan sebagainya.

Padahal sebenarnya, ada istilah yang lebih maju, yaitu difabel yang dimaknai bahwa setiap orang yang disebut disable hanya memiliki cara berbeda dalam melakukan sesuatu. Misalnya disabilitas netra sebenarnya bisa melihat, tapi melihat dengan menggunakan indra lain. Disabilitas rungu sebenarnya sebenarnya bisa mendengar, namun menggunakan bahasa isyarat atau alat bantu. Disabel daksa sebenarnya bisa berjalan, walaupun menggunakan tongkat atau kursi roda, dll.

Intinya, penyandang disabilitas adalah sama seperti kita. Sama-sama manusia yang memiliki hak yang sama tanpa harus dibeda-bedakan kebutuhannya. Dalam menggunakan jasa atau fasilitas publik, difabel juga memiliki hak yang sama seperti kita, untuk dihargai dan dihormati sebagai seorang pengguna. Difabel juga berhak mendapat perlakuan yang sopan.

Reporter : Indra Pramesti
Editor : Indra Pramesti

KOMENTAR

TULIS
ARTIKEL
EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×