Grid Networks | Selasa, 21 November 2017 | SIGN IN | SIGN UP

Hollywood dan Pelecehan Seksual. Kenapa Korban Memilih Diam?

  • Kamis, 19 Oktober 2017 16:38 WIB

Terdapat beberapa alasan kenapa korban pelecehan seksual memilih untuk diam. | Cewekbanget.id

Hollywood tengah dihebohkan karena The New York Times membongkar skandal seksual produser ternama, Harvey Weinstein. Sebelumnya, Harvey telah memproduksi film-film besar seperti Kill Bill Vol 1 dan 2, Pulp Fiction, Shakespeare in Love, dan Gangs of New York.

Namun dibalik kesuksesannya sebagai produser, Harvey ternyata memiliki sisi gelap, yakni mengajak para wanita untuk tidur dengannya.

Dengan janji bahwa dia akan membuat mereka sukses di dunia Hollywood.

(Baca juga: 9 Bentuk Kekerasan Seksual yang Penting Untuk Kita Ketahui!)

Ada lebih dari 30 korban

undefined

Setelah kasus ini akhirnya terungkap, barulah para korban berani untuk berbicara ke publik mengenai ajakan berhubungan seks yang dilakukan Harvey kepada mereka.

Sampai saat ini telah ada lebih dari 30 wanita, baik aktris maupun model yang mengaku bahwa mereka merupakan salah satu korban Harvey.

Korban-korban ini menolak ajakan Harvey, namun mereka dipaksa untuk tutup mulut.

Beberapa di antaranya adalah Gwyneth Paltrow, Angelina Jolie, Cara Delevigne, Léa Seydoux, Kate Beckinsale, Eva Green, dan Lena Headey.

(Baca juga: 5 Seleb Kpop Ini Dituduh Melakukan Pelecehan Seksual. Gimana Kejadiannya?)

Kenapa korban diam?

Ajakan Harvey untuk melakukan hubungan seksual kebanyakan terjadi di saat aktris-aktris tersebut masih berusia belasan tahun. Setelah mengalami kejadian itu, kenapa korban pelecehan seksual memilih diam?

Menurut Broadly.vice.com, terdapat beberapa alasan korban pelecehan seksual memilih untuk diam.

undefined
Cewekbanget.id/Amanda Siswandani

1. Takut orang lain enggak akan percaya

Dalam kasus seperti Harvey, dia memiliki posisi lebih tinggi daripada para korban. Dia juga memiliki reputasi yang baik di mata masyarakat.

Hal tersebut membuat korban berada di posisi yang kurang menguntungkan.

Korban khawatir bahwa orang-orang enggak akan mempercayai pelecehan seksual yang mereka alami, sehingga lebih memilih untuk diam.

2. Mendapatkan ancaman atau intimidasi

Peristiwa seperti ini juga bisa terjadi di lingkungan pekerjaan, sekolah, atau kampus.

Atasan, dosen, atau guru yang melakukan pelecehan seksual mengancam korban untuk enggak memberitahu kejadian tersebut ke siapapun.

Mereka mengeluarkan ancaman akan memecat korban atau meyakinkan korban bahwa memberitahu orang lain adalah tindakan sia-sia karena enggak akan ada yang mempercayai mereka.

(Baca juga: Taylor Swift Alami Pelecehan Seksual. Ini 5 Hal yang Bisa Kita Pelajari)

3. Khawatir enggak punya cukup bukti

Enggak adanya cukup bukti seringkali membuat korban ragu untuk melaporkan tindakan pelecehan seksual.

Contoh dari kasus Harvey, dia biasa mengajak para korban untuk berhubungan seks dengan cara meminta mereka memijatnya dan mencium dengan paksa.

Sayangnya hal tersebut sulit dibuktikan kita melapor ke pihak yang berwajib.

Korban pun memilih untuk diam karena jika laporan mereka enggak bisa dibuktikan, pelaku bisa balik menuntut mereka atas pencemaran nama baik.

4. Merasa malu terhadap diri sendiri

Korban yang mengalami pelecehan seksual menganggap kejadian tersebut sebagai suatu aib.

Mereka juga malu dan menyalahkan diri sendiri karena bisa berada di situasi seperti itu.

Rasa malu dan kecil hati tersebut yang membuat korban enggan menceritakan atau melaporkan pelecehan seksual.

5. Publik enggak mengerti apa yang dirasakan korban

Di lingkungan masyarakat, masih terdapat stigma bahwa cewek adalah pihak yang ‘menggoda’ cowok yang melakukan pendekatan seksual pada mereka.

Publik biasa men-judge cewek yang bercerita tentang pelecehan seksual yang mereka hadapi dengan kalimat-kalimat yang menyakitkan.

Contohnya, “Makanya jangan pakai baju terbuka”, “Kamu terlalu ramah sih”, atau “Jangan kepedean!”

Masih adanya respon negatif seperti itu lah yang membuat korban ragu untuk melaporkan pelecehan seksual yang mereka alami.

(Baca juga: Cewek Ini Pernah Mengalami Pelecehan Seksual di Media Sosial, Ini Cara Menghadapinya)

Gerakan #MeToo

undefined

Saat ini akhirnya banyak korban Harvey yang berani berbicara tentang pelecehan seksual yang pernah mereka dapatkan dari produser tersebut.

Terciptalah gerakan #MeToo di media sosial, yakni para korban pelecehan seksual, baik cewek maupun cowok secara berani menceritkan pelecehan seksual yang pernah mereka alami di masa lalu.

 

A post shared by America Ferrera (@americaferrera) on

Ada America Ferrera yang bercerita bahwa dia pernah menjadi korban pelecehan seksual di usia 9 tahun. Jennifer Lawrence juga speak up tentang seorang produser wanita yang menyuruhnya untuk bermain film porno.

Gerakan #MeToo bertujuan untuk membuat korban-korban pelecehan seksual enggak merasa sendirian dan supaya mereka mendapatkan dukungan dari orang-orang yang pernah mengalami hal yang sama.

(Baca juga: Kejahatan Sopir Transportasi Online Makin Marak. Gimana Cara Mencegahnya?)

Jangan takut melaporkan pelecehan seksual

undefined

Jika kita pernah mengalami pelecehan seksual, jangan takut untuk melaporkannya.

Laporan dari kita dapat membantu orang lain agar enggak menjadi korban selanjutnya.

Hal yang pertama harus kita lakukan adalah menyadari dan menerima bahwa kita adalah korban pelecehan seksual.

Proses mengakui bahwa kita adalah korban merupakan hal yang sulit bagi beberapa orang.

Sebagian kita berada di fase denial alias penyangkalan karena enggak mau dianggap lemah, malu atas pelecehan seksual yang dialami, dan masih dalam keadaan shock.

Menurut Ikhwan Sapta Nugraha, pengacara dari LBH Yogyakarta dilansir dari Vice.com, terdapat dua tindakan hukum yang bisa kita lakukan sebagai korban pelecehan seksual.

undefined
Cewekbanget.id/Amanda Siswandani

1. Dokumentasi

Dokumentasi enggak selalu berupa foto atau video, namun juga bisa berupa reaksi.

Misalnya berteriak saat kejadian berlangsung, sehingga orang-orang di sekitar dapat menyadari dan melihat pelecehan yang dilakukan oleh pelaku pada kita.

2. Laporan ke polisi

Saat membuat laporan polisi, sebaiknya kita enggak sendirian. Bawa saksi, teman, atau anggota keluarga bersama kita.

Pendamping akan mencegah polisi menanyakan hal-hal yang diskriminatif.

Jika polisi menyepelekan dan mengabaikan laporan kita, laporkan dia pada Divisi Profesi dan Pengamanan (PROPAM).

Kita juga bisa meminta bantuan Komnas Perempuan di nomor  (021) 390-3963.

Satu hal yang perlu kita ingat adalah, tubuh kita merupakan milik kita. Jika ada orang yang menyentuh bagian tubuh kita dan kita merasa enggak nyaman, enggak suka, juga enggak mengizinkan tindakan tersebut, laporkanlah.

Juga kalau ada orang yang mengeluarkan komentar atau candaan seksual terhadap tubuh kita, jangan ragu untuk menegur atau melaporkannya.

(Baca juga: Cewek Menabrakkan Diri ke Kereta Akibat Depresi. Lakukan Ini untuk Membantu Teman yang Punya Pikiran Bunuh Diri)

Reporter : Intan Aprilia
Editor : Intan Aprilia

KOMENTAR

TULIS
ARTIKEL
EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×