TULIS
ARTIKEL
 
SIGN IN | SIGN UP
News & Entertainment

Bumi Pernah Kiamat 6 Kali Dalam 450 Tahun?

  • Astri Soeparyono
  • Posted on : Rabu, 22 April 2015

Bumi Pernah Kiamat 6 Kali Dalam 450 Tahun?

Bumi pernah mengalami kematian massal sebanyak 5 kali. Itulah yang dipahami selama ini. Tapi ilmuwan mengatakan bumi "kiamat" atau kematian massal sekitar 6 kali dalam 450 tahun ini!

 

(Baca juga: Manusia Bukan Datang dari Bumi?)

 

Terjadi 262 juta tahun lalu
Dalam publikasi di Geological Society of American Bulletin, ilmuwan mengatakan, ada satu lagi peristiwa yang bisa disebut kematian massal, yaitu peristiwa Capitanian yang terjadi 262 juta tahun lalu.

David Bond dari University of Hull dan timnya melakukan penelitian di Spitsbergen, pulau pada jarak 890 km dari pulau utama Norwegia, untuk membuktikan adanya "kiamat" keenam itu.

Bond dan rekannya meneliti Kapp Starostin Formation, lapisan batuan setebal 400 meter di beberapa lokasi Spitsbergen, yang bisa memberi petunjuk tentang kondisi 27 juta tahun masa Permian Tengah, masa ketika peristiwa Capitanian diduga terjadi.

Pertama, Bond harus memastikan bahwa data dari lapisan batuan tersebut menunjukkan kesamaan dengan data adanya peristiwa Capitanian yang diambil dari wilayah tropis.

Dengan menganalisis rasio isotop karbon dan stronsium serta beragam logam dan polaritas magnetik, Bond berhasil mengonfirmasi bahwa lapisan batuan tersebut menunjukkan korelasi dengan lapisan batuan di wilayah tropis.

 

(Baca juga: Infografis: Sumbangan Sampah Dari Manusia Untuk Bumi)

 

Meneliti kepunahan missal


Kedua, Bond harus bisa menunjukkan adanya penurunan populasi satwa tertentu secara drastis pada waktu terjadinya kepunahan massal.

Bond pun menganalisis populasi moluska jenis brachiopoda dan bivalvia. Dia menunjukkan bahwa di lapisan Capitania, populasi brachiopoda mengalami penurunan hingga 87 persen. Itu merupakan petunjuk terjadinya kepunahan massal.

Sementara itu, pada lapisan batuan yang lebih muda, brachiopoda kembali muncul. Namun, pasca-kepunahan massal itu, bivalvia lebih mendominasi.

Menurut Bond, kepunahan massal kala itu terjadi karena erupsi Emeishan Traps, kini terletak di provinsi Sichuan, Tiongkok. Erupsi melepaskan banyak karbon dioksida, membuat laut mengalami pengasaman dan kekurangan oksigen.

Penelitian tentang peristiwa Capitanian dibutuhkan sebab, sejak diketahui 20 tahun lalu, peristiwa itu belum dikategorikan sebagai kematian massal.

 

(Baca juga: NASA Buat Bola Bumi Mosaik Dari Foto Selfie)

 


Kiamat Permian Akhir

 

Ada kematian massal yang lebih besar berpaut 12 juta tahun dari peristiwa Capitanian. Peristiwa yang disebut Kiamat Permian Akhir itu memusnahkan 96 persen spesies di muka Bumi. Karena terpaut singkat, sering kali Captanian dan Permian Akhir dianggap satu.

Karena belum banyak diteliti dan minim bukti dampak, Capitanian juga sering dianggap hanya kiamat regional, bukan global.

Dengan hasil penelitiannya, Bond yakin bahwa Capitanian merupakan peristiwa yang terpisah dengan Permian Akhir. Ia juga yakin bahwa peristiwa itu bisa dikatakan kematian massal yang global.

 

Tidak pihak semua setuju
Meski demikian, tak semua setuju bahwa peristiwa Capitanian bisa dikatakan kiamat global. Salah satunya Matthew Clapham dari University of California di Santa Cruz.


"Hilangnya beberapa lusin spesies di suatu daerah tak menjadikan sebuah peristiwa sebagai kematian massal," katanya seperti dikutip BBC, Selasa (21/4/2015). Namun, Clapham mengakui bahwa hasil riset Bond menyuguhkan fakta menarik di Spitsbergen pada jutaan tahun lalu.

 

(Baca juga: Kebiasaan Kecil yang Bisa Menyelamatkan Bumi)

 

(yunanto/kompas.com, foto: bbc.com, news.sciencemag.org)

Penulis :

  • Astri Soeparyono

  • Editor in Chief untuk cewekbanget.id. Percaya kalau cewek bisa dan boleh jadi apa aja yang dia mau, asal mau usaha dan kadang usaha ekstra! :*

KOMENTAR KAMU :

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×