Pikir Ulang untuk Langsung Nongkrong Setelah Divaksin. Ingat Hal Ini!

By Salsabila Putri Pertiwi, Kamis, 14 Januari 2021 | 19:13 WIB
Lansia pakai vaksin Pfizer (freepik)

Namun menurut para ahli kesehatan masyarakat, kurangnya pengetahuan tentang hal ini seharusnya membuat masyarakat bertindak seolah kondisinya adalah 'bisa menular'.

Para ahli perlu lebih memahami tentang perlindungan yang dapat diberikan vaksin COVID-19 sebelum memutuskan untuk mengubah rekomendasi tentang langkah-langkah yang harus diambil setiap orang untuk memperlambat penyebaran virus yang menyebabkan COVID-19.

Katakanlah kita telah divaksinasi dan kemudian terinfeksi, kecil kemungkinannya akan mengembangkan gejala ketika kita sudah divaksinasi.

Meski begitu, sistem kekebalan tubuh kita mungkin enggak mampu sepenuhnya melawan virus tersebut sehingga memungkinkan beberapa virus masih bertahan hidup dan berkembang biak di dalam tubuh, sehingga virus bisa keluar ketika kita bersin, batuk, atau bernapas.

Namun, belum ada yang bisa memastikan apakah jika itu terjadi cukup sering, kita dapat membuat orang lain sakit akibat virus yang kita keluarkan. 

Baca Juga: Kenali Perbedaan Vaksin Sinovac dengan 6 Vaksin COVID-19 Lainnya!

Batas Herd Immunity Masih Belum Jelas

Ingat! Jangan mengabaikan protokol kesehatan meskipun sudah divaksinasi.

Protokol kesehatan yang dimaksud termasuk memakai masker, menjaga jarak, menghindari kumpul-kumpul, melakukan aktivitas di luar rumah, hingga rutin mencuci tangan.

Sebab, meskipun angka herd immunity atau kekebalan komunitas nantinya sudah tercapai, kita masih belum tahu pasti seberapa efektif vaksin COVID-19 ini.

Meskipun jika sudah sekitar 90% populasi divaksinasi, kita mungkin tentunya bisa sedikit lebih percaya diri.

Meski begitu, kita enggak tahu apakah vaksin itu efektif untuk diri kita, sebab bahkan pada tingkat keberhasilan 90-95% sekalipun, masih ada sekitar 5-10% orang yang divaksinasi masih mungkin tertular virus.

Imunitas bukanlah sakelar yang bisa dihidupkan dan dimatikan; jika kekebalan masih di bawah ambang batas herd immunity, virus masih bisa dengan mudah beredar di populasi dan selalu ada kemungkinan vaksin enggak berhasil untuk diri kita.

Meski begitu, menurut CDC, ambang batas herd immunity tersebut masih belum ditetapkan. 

Durasi Kekebalan Tubuh Belum Diketahui

Kekebalan dari vaksin COVID-19 buatan Moderna Inc, misalnya, diyakini bisa bertahan setidaknya satu tahun.

Namun, belum ada penjelasan yang pasti tentang berapa lama vaksin COVID-19 dapat memberikan kekebalan pada orang yang sudah divaksin.

Selain karena virus tersebut masih sangat baru, adanya mutasi virus membuat para peneliti seluruh dunia masih terus mengumpulkan data tentang COVID-19.

Salah satu contohnya, vaksin flu diharapkan dapat diberikan satu tahun sekali; mungkin saja COVID-19 diminta satu tahun sekali booster.

(*)

Baca Juga: Tampil Elegan Saat Kondangan, Ini 4 Gaya Rambut Marsha Aruan yang Bisa Jadi Inspirasi!