TULIS
ARTIKEL
 
SIGN IN | SIGN UP
Love,life & Sex Education

Dear Cewek, Terkadang Kita Enggak Sadar & Diam Saja Saat Diperlakukan Berbeda. Padahal...

  • Debora Gracia
  • Posted on : Senin, 20 Februari 2017

Dear cewek, pernahkah mengalami ini? (ilustrasi: film Terjebak Nostalgia)

Sebagai cewek, saat kita tumbuh menuju dewasa ini, kita pasti pernah mendengar beberapa konsep tentang 'gimana cewek seharusnya'. Misalnya, "Cewek yang ideal itu cewek yang langsing dan berkulit putih. Kalau enggak gitu berarti enggak cantik". Makanya kita juga mungkin sering mendengar "Ih anak cewek kok kulitnya hitam gini, makanya jangan panas-panasan aja!" atau "Ya gimana mau dapet pacar, diet makanya!" dan lainnya. Sebuah konsep yang menuntut cewek untuk memenuhi kriteria tertentu yang dianggap ideal, sehingga sering kali membuat kita merasa enggak PD, bahkan mungkin merasa enggak suka sama diri kita sendiri. Tapi kita jarang mendengar larangan atau ucapan itu ditujukan pada cowok. Jarang rasanya ada yang bilang cowok enggak boleh panas-panasan biar enggak jadi hitam. Yang ada malah, "Ya elah, biarin aja kali item juga, cowok ini, kan macho." Jadinya ada double standar, yaitu menerapkan standar yang berbeda untuk sesuatu yang sama, hanya karena perbedaan gender. Pernah ngalamin?

 

Contoh lainnya misalnya kita enggak dipercaya hanya karena gender kita. Misalnya, dalam menentukan pemimpin, cowok dirasa lebih mampu, soalnya cewek dianggap suka ribet dan gampang baper. Atau sebaliknya, kalau ada posisi yang memerlukan ketelitian dan kesaabaran, biasanya cowok enggak dipercaya. Meningan cewek aja deh, biar lebih teliti. Padahal enggak semua cewek teliti dan enggak semua cowok enggak teliti dong? Dan enggak semua cewek enggak bisa mimpin, kan?

 

Atau kejadian lain seperti ini: kita pacaran selama beberapa bulan dengan seorang cowok dan dia baik juga romantis banget. Kita merasa menjadi cewek yang paling beruntung saat itu. Sampai akhirnya suatu hari, pacar memaksa kita untuk ciuman bahkan melakukan hubungan seksual. Meski sebenarnya, dalam hati kita belum siap untuk melakukan hal tersebut, kita jadi terpaksa mau melakukannya, karena pacar bilang ciuman adalah tanda sayang kita ke dia. Kalau kita enggak mau kita akan diputusin. Contoh lainnya yang paling gampang dan sering kita temui sehari-hari adalah hinaan di medsos yang sangat kasar menyerang perempuan. Misalnya kalau ada cewek yang foto seksi sedikit disebut p*r*k atau j*bl*y dengan mudahnya. Atau ada cewek yang gemuk sedikit pamer foto selfie dengan PD langsung dihina fisiknya, di-bodyshaming, hanya karena perut atau bokongnya besar, mungkin. Tapi enggak begitu kalau cowok yang melakukan itu. Atau ya, yang paling umum adalah jadi korban cat calling, yaitu digodain saat jalan atau berada di tempat umum, kayak dikasih siulan atau dipanggil-panggil dengan nada menggoda yang mengganggau.

 

Baca juga: Mengirim Foto Telanjang ke Pacar Itu Bukan Tanda Cinta. Kita Harus Menolaknya Dengan Tegas

 

Perlu kita sadari bahwa hal-hal tersebut adalah bentuk dari Seksime (sexism) dan Misoginis (misogyny). Seksime adalah perlakukan menganggap rendah atau mendiskriminasi gender tertentu. Beranggapan bahwa gender tertentu itu lebih baik atau lebih superior daripada gender lainnya. Umumnya seksime terjadi pada gender perempuan. Perempuan umumnya dianggap lebih rendah, lebih enggak mampu dan lebih dibatasi dalam melakukan segala sesuatu. Sedangkan misoginis adalah kebencian atau rasa enggak suka pada gender perempuan. Wujudnya bisa dalam berbagai bentuk, misalnya diskiriminasi gender, pelecehan seksual, kekerasan terhadap perempuan dan objektifikasi seksual pada perempuan.

 

Oh ya, sebelumnya kita harus tahu dulu ya, bahwa gender itu berbeda dengan jenis kelamin. Gender itu adalah pembagian peran serta kedudukan, posisi, tugas terhadap cewek dan cowok (pada umumnya) yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma, adat, budaya, kebiasaan, kepercayaan atau nila-nilai lainnya yang ada di masyarakat. Jadi gender itu bukan lah kodrat yang bersifat mutlak dan harus dipatuhi. Berbeda dengan jenis kelamin yang bersifat kodrat. Misalnya, secara jenis kelamin, perempuan itu pasti akan mengalami menstruasi dan punya payudara (buah dada). Itu kodrat kita sebagai cewek, bukan gender. Seksime dan misoginis umumnya menjadikan cewek sebagai objek, bukan subjek. Apa bedanya? Saat kita sebagai cewek dianggap sebagai objek, berarti kita enggak punya kuasa, bahkan terhadap diri kita sendiri. Kita adalah objek yang mendapatkan kuasa dari orang. Bukan sosok yang punya kuasa atas dirinya sendiri.

 

Sekisme dan misoginis ini sebenarnya banyak dan sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Meski umumnya kita sebagai cewek jadi objek penderita, enggak jarang juga kita melakukan tindakan seksime pada cowok atau tindakan seksisme dan misoginis pada sesama cewek. Sedihnya, hal ini jadi dianggap biasa dan dimaklumi karena sudah jadi sebuah konsep yang dianggap wajar dalam masyarakat. Sehingga kita cenderung diam, atau kalau pun enggak suka, enggak berani mengungkapkan atau melawannya, karena takut. Padahal kita perlu banget belajar untuk berani menghadapi dan menghentikan perilaku seksime dan misoginis ini. Klik halaman selanjutnya untuk tahu bagaimana caranya ya.

1 2 3

Penulis :

  • Debora Gracia

  • Creative Writer untuk cewekbanget.id. Percaya kalau cewek itu bisa jadi kuat, mandiri, tapi enggak meninggalkan sisi femininnya.

KOMENTAR KAMU :

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×