Kisah Perjuangan Cewek yang Sukses Menjadi Pramugari di Maskapai Penerbangan Terbesar Indonesia

By Intan Aprilia, Selasa, 23 Januari 2018 | 09:30 WIB
foto: dok. pribadi (Intan Aprilia)

Pramugari adalah pekerjaan yang dianggap mewah dan memiliki gengsi tinggi. Namun, menjadi seorang pramugari tuh enggak mudah lho.

Inda Pebrina (28) membagikan ceritanya pada Cewekbanget.id mengenai perjuangannya untuk menjadi pramugari di salah satu maskapai penerbangan terbesar di Indonesia.

Yuk kita simak kisahnya!

(Baca juga: Cerita Seorang Teknisi Pesawat Cewek. Harus Memastikan Pesawat Siap Terbang Dalam Waktu Satu Jam)

 

Inda bercita-jadi jadi pramugari sejak duduk di bangku SMA. “Aku pengin pekerjaan yang bisa jalan-jalan gratis tapi dibayar. Pokoknya aku mau keluar dari kampungku,” ujar Inda sambil tertawa.

Begitu lulus SMA, Inda memutuskan untuk langsung masuk ke sekolah pramugari untuk mengejar cita-citanya. Tapi keputusan ini enggak mudah, sebab impian Inda sempat diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya.

“Aku dipaksa sama teman-teman untuk daftar kuliah, tapi aku enggak mau. Lalu mereka mempertanyakan, memang aku maunya jadi apa sih.

Dari keluarga, teman, sampai tetangga, banyak yang meremehkan sampai aku merasa down.  Soalnya aku enggak cantik, enggak pintar, tinggi juga standar 161 cm. Minimalnya kan 160 cm, jadi ngepas banget.

Aku juga bukan anak siapa-siapa, aku datang dari keluarga sederhana. Di kampungku tuh menganggap kalau pekerjaan pramugari tuh ‘wah’ banget, sehingga aku enggak mungkin bisa,” cerita cewek asal Palembang ini.

(Baca juga: Meski Menyandang Difabilitas & Duduk di Kursi Roda, Cewek Ini Sukses Menerbitkan Banyak Buku)

Setelah menjalani sekolah pramugari CAT (Crew of Aviation Training) di Palembang, Inda mulai mencoba melamar ke berbagai maskapai penerbangan di Indonesia.

“Aku nyoba ke Lion, Sriwijaya, Batavia, Air Asia, pokoknya hampir semua airline aku coba deh. Tapi enggak ada yang lolos.”

Di saat itu, Inda berpikir untuk menyerah. Dia pun melanjutkan kuliahnya atas saran dari orangtua.

Namun, Inda merasa enggak puas sebab masih pengin mengejar mimpinya untuk jadi pramugari.   Akhirnya kesempatan datang lagi pada 2008.

“Ada pendaftaran untuk jadi pramugari di Garuda Indonesia untuk perjalanan naik haji. Akhirnya aku ikut dan berhasil lolos. Di perjalanan haji ini, fungsi kita kebanyakan untuk menjembatani bahasa.

Karena kan kebanyakan orang yang naik haji itu lanjut usia (lansia), sehingga mereka enggak mengerti bahasa Indonesia. Harus dijelaskan dengan bahasa daerah," ujarnya.

Inda memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus pada profesinya sebagai pramugari.

(Baca juga: Sosok di Balik Suksesnya Go-Jek Ini Membuktikan Kalau Cewek Juga Bisa Berkarir di Bidang Teknologi)

Saat itu, Inda berusia 19 tahun. Dia adalah pramugari termuda di sana. Kemudian pada 2009, Inda ditawarkan untuk menjadi pramugari untuk penerbangan reguler.

Setelah melalui berbagai macam tes, mulai dari tes performance, psikotes, pengetahuan umum, wawancara, tes kesehatan, dan banyak lagi, Inda akhirnya berhasil menjadi pramugari reguler di 2010.

(Baca juga: Kisah Penulis Kembar Asal Bandung Ini Bakal Menginspirasi Kita yang Pengin Menjadi Penulis)

Inda berhasil menggapai keinginannya untuk bisa berjalan-jalan gratis.

Sampai saat ini, Inda sudah pernah pergi ke Jeddah, Amsterdam, Dubai, Nagoya, Narita, Osaka Haneda, Seoul, Melbourne, Brisbane, Perth, Sydney, China, Singapura, juga Kuala Lumpur.

Namun Inda mengaku perjalanan yang paling berkesan untuknya adalah penerbangan pertamanya, yakni ke Jeddah.

“Aku ingat sekali saat itu aku terus menangis. Saat mendarat jam 2 pagi, aku melihat ke luar jendela. Aku bersyukur banget akhirnya bisa mencapai cita-citaku jadi pramugari, apalagi jadi pramugari Garuda Indonesia.

Setelah semua perjuangan akhirnya aku berhasil juga. Tapi campur aduk juga, di sisi lain aku sedih karena mama enggak bisa melihat aku jadi pramugari.

Mamaku dipanggil Tuhan ketika aku sedang menjalani training. Aku terakhir ketemu mama saat beliau mengantar training di tahun 2008.

Lalu beliau terkena stroke dan sakit jantung, kemudian masuk rumah sakit selama dua minggu. Keluarga enggak ada yang mengabarkanku karena enggak mau aku khawatir.

Tiba-tiba aku ditelepon dan diberi tahu kalau mama sudah enggak ada,” kenang Inda.

Menurut Inda, salah satu duka menjadi pramugari adalah harus jauh dari keluarga yang sedang sakit atau terkena musibah.

“Ulang tahun, lebaran, natal, tahun baru, atau perayaan apa pun sudah biasa dilewati di pesawat.”

Inda juga harus bisa tetap tersenyum saat ada penumpang yang membuatnya kesal atau sedang mengalami masalah pribadi.

“Kalau ada rombongan, mereka maunya duduk bareng-bareng enggak mau berpisah. Jadinya pindah-pindah tempat duduk.

Lalu ada aja penumpang yang handphone-nya tetap menyala padahal sudah diperingatkan personal Pernah juga digoda sama penumpang cowok, diajak ngobol dan diminta nomor handphone.

Pekerjaan ini kan dituntut harus ramah dan banyak tersenyum, mungkin ada yang salah persepsi,” tukasnya.

Untuk mengatasi mood-nya yang terkadang turun tapi tetap harus bersikap profesional di depan penumpang, Inda mengatasinya dengan sering latihan tersenyum di depan kaca.

“Capek pasti ada, semua pekerjaan pasti ada capeknya. Harus gagal berkali-kali dan harus menghadapi cobaan dari orang-orang yang meremehkan. Kalau mau jadi pramugari harus niat yang baik, berdoa, dan banyak belajar,” tutupnya.