7 Pidato Paling Inspiratif dari March For Our Lives 2018

By Indra Pramesti, Senin, 26 Maret 2018 | 04:48 WIB
Inspiring! (Indra Pramesti)

Setidaknya lebih dari satu juta siswa bersama para pendukung antisenjata memenuhi jalanan di Washington DC, Amerika Serikat, pada Sabtu 24 Maret 2018. Aksi demonstran tersebut ialah untuk menentang keras kekerasan senjata api dan merespon berbagai kasus penembakan yang kerap terjadi di Amerika Serikat.

Dinamakan March for Our Lives, gerakan ini meminta pembuat kebijakan untuk meloloskan hukum ketat soal senjata api. Peserta demonya tidak hanya dari Washington saja, tapi juga dari California dan Minnesota. Unjuk rasa ini diumumkan hanya beberapa hari setelah penembakan Hari Valentine di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florisa.

Sejumlah siswa menyampaikan pidatonya di antara sorak soari demonstran lain. Berikut adalah 7 pidato yang paling inspiratif dari March For Our Lives 2018!

(Baca juga: Selain Penembakan di Florida, Ini 4 Kasus Penembakan di Sekolah di Amerika Lainnya yang Mengejutkan)

Edna adalah seorang siswa dari Manuel Arts High School Los Angeles yang kakaknya ditembak mati di depan rumahnya di tahun 2007. Ia mengatakan bahwa kekerasan senjata ini telah terlalu normal di lingkungannya.

“Isu ini normal – normal sampai titik saya lebih dulu belajar cara menghindar dari peluru sebelum saya belajar membaca.”

Cameron Kasky adalah siswa dari Stoneman Douglas. Pidatonya ia tujukan kepada para politisi yang nantinya akan mereka pilih di pemilihan umum Amerika Serikat.

“Demonstrasi ini bukanlah klimaks dari aksi gerakan kami, ini adalah sebuah permulaan. Jika hari ini terlihat baik, maka tunggulah esok hari.”

“Aku di sini berbicara untuk para anak muda yang takut akan ditembak mati ketika mereka pergi ke pom bensin, ke bioskop, halte, gereja, atau bahkan sekolah,” kata Trevon Bosley, siswa dari Chicago.

“Orang-orang menganggap bahwa anak muda di negara ini adalah sosok yang sepele … Untuk orang-orang yang mengatakan bahwa remaja tidak berbuat apa-apa, aku akan berkata bahwa kita adalah orang yang bisa membuat gerakan ini menjadi mungkin.”

“Kami akan membuat hal ini menjadi isu di pemungutan suara kelak,” kata David yang merupakan seorang mahasiswa Stoneman Douglas sekaligus penyelenggara pawai.

“Kami akan memastikan orang-orang terbaik masuk dalam pemilihan untuk menjalankan negara ini bukan sebagai politisi, tapi sebagai orang Amerika.”

Delaney, siswa Marjory Stoneman Douglass High School juga ikut menyampaikan pidatonya, “Ini lebih dari demonstrasi, lebih dari satu hari, satu event, kemudian dilupakan. Ini adalah sebuah gerakan yang mencerminkan semangat dan kegigihan orang-orang … Kami di sini bukan untuk remahan roti. Kami di sini untuk perubahan.”

“Aku di sini untuk mewakili perempuan Afrika-Amerika yang ceritanya tidak pernah menjadi halaman utama dia setiap koran-koran di negara ini, yang ceritanya tidak pernah didengar pada setiap berita sore hari,” kata Naomu, siswa berumur 11 tahun dari Alexandria, Va.

(Seventeen.com)

(Baca juga: 9 Kasus Penembakan Masal Terbesar yang Pernah Terjadi di Sekolah dan Kampus di Dunia)