Pengakuan Cewek yang Pernah Membully Temannya di Sekolah Hingga Akhirnya Dia Menyesal

By Ifnur Hikmah, Sabtu, 24 Februari 2018 | 06:30 WIB
Cewek yang Pernah Membully Temannya di Sekolah & Menyesal (Ifnur Hikmah)

Kalau biasanya kita membahas cerita dari sudut pandang korban, kali ini cewekbanget.id berhasil mewawancarai seseorang yang justru pernah menjadi pelaku bully. Kira-kira apa ya yang bikin dia sampai membully orang lain?

Simak selengkapnya kisah cewek yang pernah membully temannya di sekolah berikut ini.

Baca juga: Curhat Cewek yang Pernah Mencoba untuk Bunuh Diri

“Aku mau bilang kalau apa yang aku lakukan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati orang lain. Aku memang orang yang aktif di kelas. Aku enggak tahan kalau melihat suasana kelas yang sepi dan enggak hidup. Makanya aku sering banget bikin jokes konyol yang bisa bikin temen-temenku ketawa.

Soalnya aku emang ngerasa bahagia kalau berhasil bikin orang-orang di sekitarku seneng. Berbagai cara pun aku coba setiap harinya untuk bisa membuat situasi di kelas menjadi ramai.”

“Hal itu termasuk juga dengan membikin lelucon-lelucon lucu tentang teman-teman di kelas. Aku membandingkan bentuk fisik mereka dengan benda lain yang bisa memancing reaksi dari teman-teman yang lain.

Misalnya saja, ada seorang teman yang berbadan besar. Aku berceletuk di depan kelas kalau badan orang itu mirip tong sampah besar yang ada di luar sekolah. Sontak saja semua anak langsung tertawa terbahak-bahak.

Begitu juga ketika ada temanku yang bicaranya agak susah, dengan jahatnya aku menirukan gaya bicara dia yang tergagap-gagap sambil menambahkan ekspresi aneh yang berlebihan. Setiap orang yang melihat juga tertawa melihat tingkahku.”

Baca juga: Curhat Cewek 18 Tahun yang Diperkosa Pacarnya

“Namun, aku saat itu enggak tahu kalau sikapku yang kumaksudkan hanya sebagai becandaan yang bisa menghibur teman-teman sekelas, ternyata justru menyakiti orang lain. Seriously, I thought I was funny. Tapi nyatanya enggak.

Suatu hari aku dipanggil oleh wali kelasku. Ia ternyata telah mendapat pengaduan dari banyak anak soal tingkah lakuku di kelas yang sering menjadikan mereka sebagai bahan olok-olokkan.

Aku kaget. Aku tidak menyangka apa yang aku lakukan sampai berdampak separah itu. Apalagi setelah mendengar kalau banyak anak yang menangis dan jadi takut masuk sekolah karena aku.

Mereka bahkan merasa aku seperti monster yang tega mempermalukan mereka dan menghina diri mereka di depan banyak orang.

Saat itu aku baru mengerti kalau kelakuanku sudah keterlaluan. Maksudku memang hanya ingin membuat teman-teman sekelas tertawa, tapi caraku yang salah justru membawa dampak buruk bagi orang lain.

Aku akhirnya mulai belajar kalau untuk bisa mencairkan keadaan dan membuat orang lain bahagia tidak harus dengan cara menjatuhkan orang lain.”

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di tahun 2015 menyebutkan bahwa jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 kasus di 2015.

Mengapa bisa begitu? Banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang melakukan tindakan bullying, seperti keteladanan yang kurang serta rendahnya pemahaman anak mengenai kewajiban dan tanggung jawab moral.

Selain itu, faktor lain seperti maraknya tayangan kekerasan yang muncul di berbagai media serta games online juga menjadi faktor pendukung yang tidak bisa dianggap remeh.

Hal-hal seperti berkata-kata kasar dan berperilaku anarkis dianggap hal yang sudah biasa terjadi. Mereka berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan itu.

Professor Dieter Wolke (University of Warwick, UK) seorang peneliti yang mendalami tentang kasus bullying pernah berkata bahwa baik korban maupun pelaku bullying harus mendapatkan bimbingan khusus agar mereka bisa cepat kembali berperilaku “normal” di lingkungan masyarakat.

Semua elemen masyarakat pun harus menyadari bahwa bullying merupakan tindakan yang salah serta memiliki efek signifikan yang bisa bertahan dalam jangka panjang. (Natal)