Kebiasaan Makan Terlalu Cepat Menimbulkan Risiko Bahaya Kesehatan!

By Salsabila Putri Pertiwi, Minggu, 25 Oktober 2020 | 17:00 WIB
Makan di restoran (buckeyevillagemanafield.com)

Gangguan tersebut antara lain tekanan darah tinggi, gula darah puasa tinggi, hingga kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) rendah.

Masing-masing gangguan terbilang berbahaya, namun jika didiagnosa bersama akan mengembangkan masalah kardiovaskular yang semakin tinggi.

Makan lebih pelan mungkin merupakan perubahan gaya hidup yang penting untuk membantu mencegah sindrom metabolik.

Selain itu, orang yang makan cepat cenderung enggak merasa kenyang sehingga cenderung makan berlebih.

Makan cepat juga menyebabkan fluktuasi glukosa yang lebih besar, yang dapat menyebabkan resistensi insulin.

Baca Juga: Jangan Terlambat Makan & 3 Cara Mencegah Berat Badan Bertambah!

Sindrom Metabolik

Sebuah pengamatan terhadap 642 laki-laki dan 441 perempuan dengan usia rata-rata 51,2 tahun menunjukkan, enggak ada di antara mereka yang mengalami sindrom metabolik pada 2008.

Para peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan kecepatan makan yang biasa dilakukan, yaitu lambat, normal, atau cepat.

Setelah lima tahun, para peneliti menemukan bahwa 11,6% orang yang makan cepat telah mengembangkan sindrom metabolik, dibandingkan dengan 6,5% orang yang makan normal, dan 2,3% orang yang makan lambat.

Kecepatan makan yang lebih cepat juga dikaitkan dengan bertambahnya berat badan, kadar glukosa darah yang lebih tinggi, dan lingkar pinggang yang lebih besar.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa makan terlalu cepat menyebabkan risiko obesitas yang lebih tinggi di masa mendatang.

Sebagian alasannya tampaknya karena perut enggak punya cukup waktu untuk memberi tahu tubuh bahwa dia sudah terisi.

Pada akhirnya, kita makan lebih banyak dari yang seharusnya.