Remaja Enggak Boleh Menyepelekan Stres dan Depresi!

By Indra Pramesti, Rabu, 2 Mei 2018 | 09:45 WIB
Jangan sepelekan stres dan depresi, girls! (Indra Pramesti)

Stres seolah enggak bisa dilepakan dari hidup kita sehari-hari. Apalagi kita hidup di zaman ketika semua bergerak begitu cepat, kompetisi semakin tinggi dan begitu banyak tuntutan dari orang-orang di sekitar kita. Kondisi ini membuat kita jadi lebih cepat stres.

Ada dua jenis stres, yaitu stres positif dan stres negatif. Stres positif dinamakan eustress, bisa memacu adrenalin kita agar lekas mencapai target untuk memenuhi deadline. Contohnya, ketika deadline tugas sekolah tinggal 2 hari lagi, kita terpacu untuk menyelesaikannya secepat mungkin, bahkan kalau perlu begadang. Stres ini membuat otak kita selalu terjaga, termotivasi, dan bisa meningkatkan percaya diri.

Sementara stres negatif yang sering disebut distress memiliki gejala jantung gampang berdegup kencang atau enggak rileks, perubahan pola tidur dan makan, enggak bis aberpikir dengan jernih, seirng mengalami insomnia, gampang marah karena hal kecil, sering gugup dan khwatir, dna merasa semua yang terjadi dalam hidup kita begitu sulit. Kalau semakin didiamkan, stres ini lama-lama bisa menjadi depresi, lho.

(Baca juga: Bongkar Nasib Percintaan Kita di Mei 2018 Menurut Zodiak!)

Salah satu penyebab utamanya adalah masalah hormon. Pada masa pubertas, banyak hormon yang sedang mematangkan diri sehingga ini sangat berpengaruh pada kondisi remaja yang naik dan turun. Ini juga yang pada akhirnya memicu depresi.

Selain hormon, depresi pada remaja juga sering dipicu oleh gadget. Menurut psikolog anak dan remaja, Anna Surti Ariani, S.Psi, Msi, gadget memang praktis, gampang, dan membuat kita mendapatkan banyak info dengan cepat.

Tapi ada efek negatif yang begitu besar dari gadget yaitu membuat orang jadi soliter. Dengan adanya gadget di tangan kita bisa melakukan banyak hal sendiri dan berpikir kalau kita enggak perlu bantuan  orang lain. Kalau terlalu lama, kondisi in ibis ameningkatkan kadar kesendirian sesorang dan jika tersu dibiarkan bisa memicu depresi.

Keserinagn bergaul dengan gadget akan semakin mengurangi kemampuan kita untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain. Padahal komunikasi itu sangat membantu remaja agar terhindar dari depresi.

Jangan malu cerita alias curhat. Penting banget mengeluarkan apa yang emngganggu pikiran kita. Karena kalau dipendam sendiri, malah akan membuat kita makin depresi. Bagusnya, sih, kita rajin cerita apa pun yang kita hadapi dengan orangtua atau teman kita. Seenggaknya kita punya seseorang yang bersedia mendengar cerita kita.

Sebaliknya, kita jangan ragu memancing teman yang terlihat pendiam dan murung untuk curhat. Barang kali dia sedang mengalami stres dan dperesi.